Kiai dan Blater di Madura (1)

Oleh: Abdur Rozaki Kekerasan dan religiusitas selalu dekat dengan citra simbolik orang Madura. Padahal dua kosa kata itu secara teoritis memiliki kandungan makna yang berbeda bahkan saling berseberangan satu sama lain. Orang yang religius selalu membawa sikap hidup asketis dan jauh dari berbagai anasir dan tindakan kekerasan. Sebaliknya, seseorang yang dalam sisi kehidupannya akrab dengan…

Rate this:

Mengkaji Pemberitaan Sriwijaya Post tentang Madura United

Pemberitaan tentang laga lanjutan liga 1 Indonesia antara Madura United FC melawan Sriwijjaya FC di media Sriwijaya Post cenderung provokatif, sehingga berpotensi memancing emosi suporter, offial dan pemain klub sepak bola itu. Sriwijaya Post seperti dilansir http://palembang.tribunnews.com, menulis berita berjudul “Ini Sesumber Bos Madura United yang Bikin Panas Telinga Penggawa Sriwijaya FC”. Berita ini diterbitkan…

Rate this:

Hidup Rahem Berakhir di Tanah Sengketa Setelah Hakim PA Sumenep Gelar PS

SUMENEP – Pak Rahem, 49 tahun, warga Desa Karang Anyar Kalianget Sumenep akhirnya meninggal dunia di atas tanah sengketa di Dusun Podak Desa Kacongan Kec. Kota Kab. Sumenep karena lambat mendapat pertolongan hari ini, Jumat (12/05/17). Pak Rahem adalah suami dari Mamlu’atun, menantu dari Sarkiya yang merupakan salah satu Tergugat dalam perkara No. 663/Pdt.G/2016/PA.Smp. Sebagai…

Rate this:

Pemikir Bebas itu Telah Berpulang

Oleh : Asep Sopyan* Pemikir bebas itu telah pergi 32 tahun lalu (31 Maret 1973), hampir 31 tahun setelah ia datang (9 Nopember 1942). Dalam pencariannya yang penuh haru untuk menemukan Tuhan, akhirnya ia dipanggil oleh-Nya dengan segera, tanpa disengaja saat sebuah sepeda motor berkecepatan tinggi menabraknya di depan kantor majalah Tempo, tempat di mana…

Rate this:

Pergolakan yang Tak Pernah Padam

Oleh: Ulil Abshar Abdalla* Buku kecil berwarna hijau dengan gambar kepalan tangan yang gempal di sampulnya itu saya kenal pertama kali sewaktu masih belajar di pesantren pada awal 1980-an. Saya melihat sejumlah santri dengan sembunyi-sembunyi membaca buku itu. Agar tak ketahuan, mereka menaruh buku itu di sela-sela kitab berbahasa Arab. Dari luar, mereka tampak seolah-olah…

Rate this: