MENAMPAR “TUHAN”

oleh -
Foto : Penulis, Sulaisi Abdurrazak

Oleh: Sulaisi Abdurrazaq

Maduraku.com. Coronavirus adalah bukti paling mutakhir bahwa tuhan tidak ada, atau kalau ada, dia tidak peduli. Manusia saja yang kegeeran bahwa ada sesuatu bernama “tuhan”. Para filsuf sejak lama memperbincangkan tentang konsep yang satu ini. Ada banyak argumen. Tapi, yang paling kokoh dan didukung temuan sains, “tuhan” adalah numenklatur yang diciptakan manusia, dibayangkan, diagungkan, ditinggikan. Sebelum manusia muncul di muka bumi, tuhan tidak ada. Setidaknya tidak dibicarakan. Simpanse, landak atau orang utan, tak punya konsep tentang hal-hal yang abstrak. Karenanya, mereka tak mampu menciptakan-tuhan. Hanya manusia yang mampu menciptakan tuhan. Tuhan diciptakan untuk memperingan dan mempermudah kehidupan manusia yang brutal. Sebelum tuhan ada, manusia hidup dalam kemurungan-dan tanpa makna. Tuhan dan kemudian agama membantu menenangkan hidup mereka. Ada hal-hal yang bisa diatasi dengan tuhan, tapi banyak sekali hal dimana tuhan tak mampu berbuat apa-apa. Termasuk soal coronavirus._

(Luthfi Assyaukanie).

KUTIPAN di atas adalah celoteh Luthfi Assyaukanie, diposting Abdul Wahab Ahmad di facebook nya, hari ini (24/03/20).

Pada facebook Luthfi Assyaukanie, tidak ditemukan lagi tulisan itu, mungkin telah dihapus. Tapi tanggal 21 Maret 2020, Luthfi memosting pandangannya tentang agama bertajuk: “Tidak ada Fiksi yang Lebih Dahsyat dari Agama”, paling tidak, tulisannya memiliki substansi yang sama dengan kutipan di awal tulisan ini.

Menarik, Luthfi menjadikan virus corona sebagai bukti mutakhir tidak adanya tuhan, bahkan, tuhan menurutnya diciptakan oleh manusia.

Cara berpikir Luthfi ini kuno, tak asing bagi mahasiswa jurusan ushuluddin dan filsafat, apalagi bagi kader-kader Himpunan Mahasiswa Islam. Narasi lain yang jauh lebih dekonstruktif sudah menjadi santapan bagi peserta basic training, mahasiswa-mahasiswa HMI semester satu, yang diasah pikirannya untuk menguatkan akidah.

Jika potongan pikiran Luthfi ini tidak dijelaskan secara komprehensif, bukan tidak mungkin akan ditelan begitu saja bagi generasi medsos yang tak pernah membaca filsafat. Berbahaya bagi akidah yang dangkal. Jangan ada pemurtadan melalui virus corona.

Setiap orang memiliki kadar pemahaman masing-masing terhadap kepercayaannya, telah banyak kalimat-kalimat kontroversial lain yang menguji ketajaman nalar, misalnya: “tuhan” telah mati, “tuhan” diciptakan oleh manusia, “tuhan” itu ilusi, “tuhan” tak mampu berbuat apa-apa, orang beragama itu sakit jiwa, lemah dan kekanak-kanakan, agama adalah candu, dan seterusnya. Semua adalah tentang sudut pandang.

Luthfi Assyaukani tidak menjelaskan apa makna “tuhan” dengan tanda kutip, dia juga tidak menjelaskan apa bedanya penulisan tuhan dengan “T” besar dan “t” kecil. Yang seperti ini sudah tamat dibahas oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur). Bahkan Ainun Nadjib (Cak Nun) pernah juga menulis tentang, “Tuhan dan tuhan-tuhanan”. Jadi, tak ada yang baru dari pikiran Luthfi Assyaukani, tak perlu reaktif pula menanggapinya, biasa saja.

Namun, agar terjalin nuansa dialogis dan terbangun tradisi kritis, pikiran Luthfi perlu direspon, supaya tidak sesat dan menyesatkan.

Cara berpikir Luthfi Assyaukani yang menampar-nampar tuhan dipengaruhi pemikir Yahudi, Sigmund Freud. Sebagai seorang psikoanalisis, ia tertantang melanjutkan penelitiannya terhadap agama.

Dalam Obsessive Action and Religion Practices (1907) Freud berkesimpulan bahwa pemeluk agama mirip dengan tingkah laku pasien yang sakit jiwa (neurosis) dan kekanak-kanakan.

Agama menurut Freud adalah pengulangan (repetisi) pengalaman masa kanak-kanak, yang mengalami tekanan dan ketakutan pada bapaknya. Orang beragama sama dengan anak-anak, melakukan ritual hanya untuk dua hal, mengobati rasa tertekan karena takut pada neraka atau kalau dijanjikan sesuatu yang dapat membuatnya senang, seperti surga.

Luthfi Assyaukani menjadikan virus corona sebagai bencana, yang membuat manusia tertekan. Untuk mengatasi kecemasan akibat wabah itu manusia terpaksa mengimajinasikan sesuatu yang transendental, yang lalu dinamakan dengan “tuhan” (bukan “Tuhan”), agar manusia tenang. Atau dalam makna lain, sebenarnya “tuhan” tidak ada, kecuali diciptakan oleh manusia.

Dalam dua kalimat syahadat (asyhadu anlaa ilaaha illallah), memang ada dua tuhan, pertama, ilah, yang kedua Allah. Versi Cak Nur dan Cak Nun, ilah adalah “tuhan” dengan “t” kecil, dan Allah adalah Tuhan dengan “T” besar.
Kalimat syahadat mengandung makna annaafii atau negasi (peniadaan) dan al-itsbaat atau konfirmasi (penegasan).

Untuk mengetahui Allah yang sebenarnya, manusia harus tahu segala sesuatu selain Allah yang harus dinegasikan, yaitu “tuhan” dengan “t” kecil (makhluk: manusia, akal, kekuasan, uang, kekuatan, dan lain-lain).

Dalam konteks wabah corona virus sebagaimana kutipan di awal tulisan ini, kekacauan pola pikir Luthfi Assyaukani terletak pada kata “tuhan tidak ada” tanpa penjelasan. Padahal, dengan mengatakan “tuhan tidak ada” pada dasarnya dia sedang membuktikan bahwa tuhan ada, baik kholiq atau makhluq. Masalah utamanya adalah, Luthfi mencampur aduk dan mengacaukan sendiri yang mana kholiq (“Tuhan”) dan yang mana makhluq (“tuhan”).

Jika yang dimaksud Luthfi tuhan harus eksistensial seperti harapan kelompok materialisme untuk menghadirkannya secara kasat mata, itu menunjukkan Luthfi Assyaukani sedang frustasi, tidak mampu menempatkan logika pada tempatnya.

Bisa jadi, Luthfi Assyaukani ingin frustasi seperti “gurunya”, Sigmund Freud, yang lalu bunuh diri setelah meminta dokternya memberikan tiga dosis morfin sehingga ia mati pada tanggal 23 September 1939.

Siapakah menurut saudara yang mengambil nyawa Sigmund Freud. Tuhan atau tuhan-tuhanan?

*Penulis adalah facebooker

[ Guluk-Guluk Sumenep, 24 Maret 2020 ]