Dualisme PB HMI, Ketua Umum HMI Cabang se-Jawa Timur Nyatakan Sikap

oleh -
Foto : Surat pernyataan sikap HMI se Jawa Timu

Maduraku.com. Dualisme yang terjadi pada Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Periode 2018-2020, antara Respirastori Saddam Al Jihad dan Arya Kharisma Hardy hingga kini masih tidak berhenti menuai kritikan dan pernyataan sikap dari berbagai Cabang HMI yang ada di seluruh Indonesia. Salah satunya, pernyataan sikap atas dualisme PB HMI yang terjadi tersebut datang dari Aliansi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang se-Jawa Timur.

Berdasarkan surat edaran dan pernyataan sikap yang dilakukan oleh Aliansi HMI Cabang se-Jawa Timur, hal itu berdasarkan pada dinamika dan perkembangan PB HMI yang hingga hari ini larut dalam persoalan dualisme, dan pada akhirnya dinamika dualisme tersebut akan berimplikasi yang sangat serius pada kerja-kerja sebuah organisasi.

“Hal yang paling terasa dari adanya dualisme ini yaitu membuat kondisi perkaderan di HMI semakin tidak kondusif dan produktif. Bagaimana tidak, imbas dari dualisme kepengurusan tidak hanya terjadi di tubuh HMI, akan tetapi juga terjadi ditingkat Badko, Cabang, bahkan hingga Komisariat di Indonesia”,(dikutip dari surat pernyataan sikap Aliansi HMI Cabang se-Jawa Timur).

Lebih lanjut, dalam surat dan pernyataan sikap yang sudah ditanda tangani oleh 9 Ketua Umum HMI Cabang di Jawa Timur yang terdiri dari, M. Robet Rifqi Habibi (HMI Cabang Pasuruan), Andik Setiawan (HMI Cabang Surabaya), Sutriyadi (HMI Cabang Malang), Untung Apriliyanto (HMI Cabang Banyuwangi), Deny Nur Cahyo (HMI Cabang Ponorogo), Akhmad Hokim (HMI Cabang Pamekasan), Imam Rifai (HMI Cabang Pacitan), Effendi Pradana (HMI Cabang Bangkalan), dan Moh. Sahrul Mufid (HMI Cabang Kediri). Tertanggal 28 Desember tersebut, Aliansi HMI Cabang se-Jawa Timur memberikan 6 poin pernyataan sikap.

  1. Mendesak kedua kubu, baik kubu R. Saddam Al-jihad maupun kubu Arya Kharisma H untuk segera rekonsiliasi.
  2. Jika diantara kedua belah pihak ada yang tidak mau melakukan rekonsiliasi, maka yang bersangkutan sama dengan ingin merawat perpecahan di tubuh HMI.
  3. Untuk menghindari adanya klaim sepihak, maka kesediaan untuk melakukan rekonsiliasi oleh kedua kubu harus dibuktikan dengan adanya surat pernyataan.
  4. Aliansi HMI Cabang se-Jawa Timur siap mengundang kedua kubu untuk melakukan rekonsiliasi.
  5. Apabila poin 1 tidak dipenuhi, maka kami menolak dengan tegas pelaksanaan kongres ke 31 HMI yang akan diselenggarakan oleh kedua belah pihak.
  6. Mengajak cabang-cabang seluruh Indonesai agar mendesak PB HMI untuk segera rekonsiliasi dan menolak adanya 2 kongres dari masing-masing kubu.

Sejalan dengan hal tersebut, Effendi Pradana Ketua Umum HMI Cabang Bangkalan saat dikonfirmasi, dirinya sangat menyayangkan atas dualisme yang terjadi pada sebuah organisasi yang pada akhirnya dualisme organisasi tersebut berdampak pada terhambatnya organisasi untuk dapat semaksimal mungkin tumbuh dan berkembang.

“Dualisme jelas tidak baik kepada tumbuh kembang organisasi, dan ini adalah penghambat paling besar dikarenakan adanya perbedaan perspektif dan ego pribadi”, (ungkapnya saat dihubungi melalui akun WhatsApp pribadinya, Selasa 31/12/2019).

Sementara itu, selain langkah-langkah yang sudah dilakukan melalui pernyataan sikap tersebut, pihaknya juga menambahkan “langkah selanjutnya ialah penyatuan persepsi terkait langkah strategis demi gerak organisasi yang lebih baik”, (tambah Effendi, Ketum HMI Cabang Bangkalan yang baru dilantik 21 Desember 2019 lalu). (Adi/Sap/Maduraku.com)