Suami macam apa,??

oleh -
Foto: Noer Hayati di akun Medsosnya

Sejak menikah, tak jarang berurai airmata, karena kita memang jauh berbeda, mulai dari karakter, cara pandang dan seterusnya

Saya yang sanguinis lebih easy going, tak mau tau apa yg saya bilang itu sakit atau bahkan enak, sementara suami lebih ke melankolis yang cenderung berhati-hati, perfeksionis, merawat galaunya sendiri dan seterusnya

Fase awal pernikahan kita Long Distance Relationship (LDR) agak lama

Suhu LDR itu sungguh unpredictable, say hallonya senyum tawa bahagia lalu ditutup dengan salam murka dan tangisan kecewa, dan situasi ini kadang berlangsung hingga kini meski frekuensinya sudah semakin datar.

Setelah dipelajari, kini sikap itu biasa dan bahkan menjadi pintu saling merekatkan dan saling merindu, jika dimediasi oleh rasa terbuka untuk introspeksi diri dan rela merendah untuk meminta maaf diatas gengsi (karena takut turun pamor)

Please janganlah begitu (meski sampai saat ini saya selalu berperang dengan ego dan selalu diingatkan suami untuk tidak gengsi dalam hubungan asmara antara suami istri). Tadi aja masih debat, mempertanyakan gengsi yang seperti apa, saya sih jawabnya iya, gengsi yang sifatnya general ( masih aja gengsi dalam pengakuan gengsi gengs, ya itulah manusia)

Tertatih-tatih kita membina hubungan baik, mengorbankan perasaan, pikiran, waktu dan energi hanya demi tetap selaras serasi dan beriringan.

Sulit sekali menyatukan dua ego menuju satu muara, tak jarang debat habis-habisan, hingga kadang marahnya memuncak berujung diam-diaman, (berlaku untuk saya, karena kalo marah masih ada celah ngomel meski sehari semalam maunya ngomel, jika perlu ijin tidur dulu bangun tidur lanjut ngomel lagi, bagi saya itu sangat bisa. jujur banget sih, iya donk sebab munafik pada diri sendiri itu, menurut sayaa biang kegagalan diri, tenang tenang!!! Anda boleh beda).

Sementara refreshing keluar rumah sebentar menjadi pilihan suami saat ruwet dengan omelan saya, saya dibiarkan begitu saja, ya itu kelakuan suami, lalu dia memilih whatsapp (WA) sebagai media berkomunikasi karena WA tak bisa meninggikan suara tapi mampu menyampaikan pesan.

Seringkali Islah terjadi di WA, ibarat kecepatan dan jarak antara marah dan merayu itu sungguh hanya sekian knot saja dan tak sampai satu Km, Syunguh! tak lama dia meminta saya untuk mengajaknya pulang kerumah, padahal ga ada yang usir loh tetapi karena gengsi yang terkomunikasikan jadinya seperti lelucon tak bermartabat.!

Saya sebagai perempuan (istri) tidak terprogram seperti perempuan pada umumnya, pagi nyapu, masak, nyuci dan sebagainya, saya 100% beda, semua itu dikerjakan hanya ketika saya ikhlas melakukan dan keinginan itu ada.

Pernah suatu ketika mau ganti baju tapi yang ada hanya cucian kotor, (padahal sudah disediakan mesin cuci) pernah rumah kotor sampai tidak kelihatan seperti rumah hingga minta dibantu PRT tetangga, tetapi reaksi suami apa???

Saat tak ada satupun baju bersih dia menggandeng tangan saya ketoko pakaian langganannya sembari berkata “yuk kita belanja baju” (mikir keras diatas ego) saat rumah kotor dia hanya berkata ” rumah kita ini hidup sekali sayang” sambil kedip sebelah mata mengatakannya dengan nada bersemangat!!! Subhanallah, speechless bagi saya

Saat saya tak mood untuk masak dan dapur berantakan, sebelum saya bangun dari tidur sudah ditanya mau makan apa via gofood??? MasyaAllah, tabarakallah (sampai saat ini dapur yang di Pamekasan masih tutup, ini asli komplen dari pak Suami, ya, saya iyakan, memang begitu kok!!)

Saya dapatkan situasi begini saat saya “sakit” dan tak bisa berbuat lebih, meski begitu tak ada sedikitpun amarah dan dendam di hatinya, seringkali dia katakan “biarkanlah berlalu, hidup tak selalu begini, asal engkau sehat dan bahagia” ini adalah kalimat pamungkas yang bener-benar saya rasakan dalam kehidupan nyata.. (ya Rabb peliharalah kami dalam kebaikan, kenyamanan dan kebahagiaan, anugerahMu sungguh luar biasa)

Pada intinya, saya memahami Pernikahan itu adalah sekolah sepanjang hayat, isinya adalah aktifitas pembelajaran dengan tingkat kesulitan yang fluktuatif, sejauh kita bisa memberi dan menerima, memahami dan terus mempelajari, terbuka, jujur dan mau memaafkan, insyaAllah semua akan baik2 saja.

Bagi saya Suami itu, mau jelek mau bagus dia adalah pemimpin rumah tangga, senyampang nilai ucapan dan kelakuannya positif, ber “Nash” untuk diimani, maka syurga istri tetap berada padanya.

Sementara istri adalah jelmaan pikiran, perbuatan, dan ucapan suaminya, dia bisa menjadi syetan dengan segala kebiadabannya jika diciptakan situasi buruk dengan ornamen-neraka neraka didunia (seperti cerita Dewi kali dan Dewa Siwa). Akan tetapi dia mampu menjelma sebagai bidadari jika suami mampu menciptakan syurga dalam rumah tangganya.

Disitulah letak hak dan kewajiban suami istri menjalani proses pendidikan dalam pembinaan rumah tangga, sebab proses membangun dan saling menguatkan itu akan mengejewantah jika telah bersepakat dalam sebuah pilihan.

Jangan lupa Bahagiaa..

Tulisan ini dibuat saat saya kelar beberes dan berseloroh capek lalu suami bilang ” tiduur” dan saya mati gayašŸ˜µšŸ˜µšŸ˜µšŸ˜µ

By: Noer Hayati (MADURAKU.COM)