HMI Organisasi Buram! Benarkah?

oleh -
Foto: Izzah Nur Hanifiyah Firdausi

“HMI itu Liberal! Tidak baik untuk diikuti. Lebih baik kalian ikut organisasi ekstra yang lain saja dari pada HMI. HMI itu buram. Kenapa kok buram? Landasannya saja tidak jelas mengikuti ormas islam yang mana. Muhammadiah lah, NU lah, Syiah lah, Masyumi lah, yang mana sebenarnya HMI itu? Atau jangan-jangan HMI itu bukan Himpunan Mahasiswa Islam melainkan Himpunan Mahasiswa Indonesia? Yang secara tidak langsung jika demikian non Islam pun termasuk dalam HMI? “

Bukan hanya satu-dua orang yang mengatakan demikian. Sudah menjadi rahasia umum jika HMI selalu digonjang-ganjingkan sebagai organisasi ekstra kampus yang bersifat negatif. Entah mendapat referensi dari mana mereka-mereka mengatakan HMI sedemikian rupa. Padahal jika ditelusuri, orang-orang yang “menegatifkan” HMI adalah orang-orang yang tidak tau atau bahkan awam mengenai sejarah HMI dan segala keilmuan HMI. Nah, supaya kalian yang membaca tulisan ini juga tidak ikut-ikutan termakan oleh asupan tidak bergizi itu akan saya ungkap secara singkat-padat-tepat apa dan bagaimana sebenarnya HMI.

Himpunan Mahasiswa Islam merupakan organisasi ekstra kampus tertua di Indonesia. HMI didirikan di Yogyakarta, pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947, atas prakarsa Lafran Pane beserta 14 mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (sekarang dikenal sebagai Universitas Indonesia) lainnya.

HMI terlahir di bumi pertiwi mengusung dua tujuan inti mulia: 1. Menegakkan ajaran Agama Islam 2. Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mengangkat derajat rakyat Indonesia.

Dari kedua tujuan tersebut sudah tidak bisa di sangkal bahwasanya HMI bukanlah suatu organisasi mahasiswa yang bersifat negatif. Karena memang pada dasarnya tidak ada suatu organisasi, terutama di lingkup kemahasiswaan, yang akan menggiring para anggotanya ke jalan yang tidak benar. Sebab, organisasi merupakan suatu wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi sosial akademisnya yang tidak bisa di peroleh di dalam kelas.

Pada dasarnya, saya menciptakan tulisan ini dilatarbelakangi oleh pengalaman saya sendiri sebagai mahasiswa baru di salah satu Universitas di Sumenep yang mendapati suatu budaya mahasiswa mendeskriminasi organisasi lain dan menjunjung tinggi organisasi yang digelutinya sendiri. Sehingga tidak sedikit akibat egoisme atas nama organisasi tersebut berakhir memecah tali persaudaraan. Herannya, konflik panas tersebut justru terjadi di kalangan para kader organisasi atau para anggota yang sebenarnya tidak memiliki jabatan penting di organisasi tersebut.

Padahal, sebagai mahasiswa seharusnya kita sudah bisa membedakan dan memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik, termasuk dalam bersikap sosial.

Di HmI sendiri saya di ajari untuk menjadi mahasiswa Indonesia yang mampu memperhatikan social functie sebagai student dan menceburkan diri dalam masyarakat dengan berpedoman. Dalam arti lain, seorang mahasiswa terutama para kader HMI penting memahami suasana batin masyarakat Indonesia. Sehingga segala hal yang menyangkut konsep baik itu pemerintahan, politik, ekonomi, dan pendidikan haruslah tidak lepas dari akar kebudayaan Indonesia atau jati diri bangsa Indonesia merupakan kecenderungan umum tokoh-tokoh kebanggaan HMI seperti Lafran Pane dan 14 pendiri HMI lainnya.

Oleh karena itu, jika masih ada seorang kader HMI yang merasa terkucilkan sebab ‘omongan miring’ oknum-oknum yang tidak pro terhadap HMI, seperti mengatakan bahwa HMI merupakan organisasi ekstra kampus yang tidak layak untuk diikuti karena landasan Islamnya yang tidak jelas, Masyumi, PKI, dan lain sebagainya, maka kader tersebut perlu lebih dalam lagi mengkaji dengan hikmat keilmuan dan sejarah keHMI-an.

Mempelajari keilmuan dan sejarah HMI tidak hanya berlaku terhadap para kader HMI saja, melainkan juga berlaku terhadap mereka yang masih ragu terhadap HMI atau bahkan mereka yang tidak suka kepada HMI. Dengan tujuan agar masyarakat atau mahasiswa di luar sana tidak asal bicara mengenai HMI sebelum memahami apa sebenarnya dan bagaimana sebenarnya eksistensi serta intisari Himpunan Mahasiswa Islam.

Mengapa saya berani mengatakan demikian? Karena pada awalnya saya sendiri pun merupakan orang awam yang termakan umpan dari oknum-oknum yang tidak pro terhadap HMI. Doktrin mengenai HMI yang katanya organisasi liberal, Muhammadiyah, Masyumi, atau bahkan ada yang mengatakan HMI adalah Himpunan mahasiswa Iblis, nyaris tertanam dan mengakar dalam otak saya. Akan tetapi, melihat kenyataan di lapangan seperti para alumni HMI dan dari berbagai artikel serta buku-buku mengenai HMI, saya justru mendapati Himpunan mahasiswa Islam merupakan organisasi yang independen dan banyak mengandung sisi positif. Hal tersebut sangat tidak sesuai dan bahkan sangat jauh berbeda dengan doktrin negative tentang HMI yang untung saja tidak sampai mengakar di otak saya.

Mengenai ungkapan yang mengatakan HMI itu buram karena “katanya” tidak memiliki landasan pasti terhadap salah satu ormas Islam yang ada di Indonesia, menurut saya ungkapan itu tidak lebih lucu dari sebuah lelucon. Karena mengapa? HMI adalah organisasi yang independen. Di dalam HMI tidak membeda-bedakan dan menganak tirikan mana mahasiswa yang berasal dari NU, Muhammadiyah, Masyumi, dan lain sebagainya. HMI mewadahi dan merangkul segala perbedaan pendapat dan pandangan anggotanya. Karena HMI pada hakikatnya berlandaskan terhadap Islam yang kaffah rahmatan lil-‘alamin dan tentu saja saling menghormati perbedaan pandangan mengenai ormas yang di geluti oleh para anggota HMI.

Jika di analogikan, HMI sebetulnya serahim dengan Indonesia dalam hal Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tapi tetap satu. Maka ironisnya, jika ada yang menganggap bahwa HMI itu buram dengan alasan karena anggotanya yang berasal dari berbagai ormas Islam, lantas apa kabar dengan Indonesia kita yang memiliki 4 ras, 6 Agama, 1340 suku, 742 bahasa, dan 7241 budaya?.

Penulis: Izzah Nur Hanifiyah Firdausi (Mahasiswi dengan kesibukannya ngopi, ngaji, dan berbagi. (MADURAKU.COM)