Wartawan Senior Antara: Media Massa itu Tidak Selalu Netral

oleh -
Forum Diskusi Konten Media Ecek-Ecek Dengan Pemateri (Kiri, Abd. Aziz, Tengah, Moderator Sulaisi, Kanan, Rifa'ie), foto oleh Sap

MADURAKU.COM, Oligarki adalah kekuasaan oleh segelintir orang, dalam konteks media bukan tidak mungkin konten media massa dipengaruhi oleh sekelompok kecil orang.

Sejumlah jurnalis diujung Timur Pulau Garam Madura terlibat dalam Diskusi Media bertajuk “Analisis Konten Media: Demam “Ecek-Ecek” dan Hegemoni Oligarki di Tanah Sumekar bertempat di Warung UPNORMAL Sumenep Jawa Timur (12/10/19).

Diskusi tersebut dihadiri sejumlah wartawan, LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI), dan sejumlah aktifis mahasiswa.

Tampak dua nara sumber yang tak asing dalam dunia jurnalis , yaitu Abd. Aziz, wartawan Antara Jatim dan Ketua PWI Pamekasan bersanding dengan wartawan senior di Sumenep, yaitu Moh. Rifai, Penasehat PWI Sumenep sekaligus komisioner Komisi Informasi Kabupaten Sumenep yang digadang-gadang maju bacalon PWI Jatim.

Selain itu, diskusi tersebut dipandu oleh moderator Sulaisi Abdurrazaq, Dosen IAIN Madura yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPC APSI Madura, Ketua YLBH Madura, dan Ketua LKBH IAIN Madura.

Diskusi Media digelar maduraku.com mulai pukul 19.30-22.00 dilanjutkan ngopi santai di Warung UPNORMAL.

Dalam diskusi tersebut Abd. Aziz menyajikan bahwa isi media merefleksikan realitas, tetapi realitas-realitas isi media dapat tersaji dari hasil kompromi antara pihak yang menjual informasi kepada media dan siapa yang membelinya.”

Abd. Aziz mengajak peserta untuk membaca teori Lasswell dan Pamela J. Shoemaker tentang The mirror aproach dan The null effect approach.

Media, lanjut Abd. Aziz, dapat dipengaruhi ideologi tertentu (ideological level), dapat dipengaruhi individu si pewarta (individual level), dapat dipengaruhi atasan dari si pewarta (organization level), extra media level dan media routines level.

Media ecek-ecek dapat diukur lewat barometer analisis Alexa, kata ecek-ecek kan dalam KBBI artinya tidak sungguh-sungguh atau pura-pura, jadi media yang tidak dikelola secara profesional dapat saja dimaknai sebagai media ecek-ecek”, lanjut Ketua PWI Pamekasan dua periode itu.

Menurut Sulaisi Abdurrazaq, “masalah status facebook tentang “media ecek-ecek” itu tidak penting, seperti disampaikan Pak Moh. Rifai, masalah itu hanya muter-muter dari wartawan sendiri, discreenshoot sendiri, disebarkan sendiri di internal wartawan, dipermasalahkan dan diviralkan sendiri oleh mereka, padahal mestinya wartawan fokus pada masalah kinerja DPRD yang menyangkut kepentingan masyarakat.”

Sulaisi menambahkan, “masih banyak yang harus menjadi atensi media, misalnya: persoalan koruptor migas, pelayanan kapal yang merugikan masyarakat, masalah pengadaan kapal Sumekar III dengan harga berjibun, masalah Pilkades dan interpelasi, masalah infrstruktur di kepulauan Kangean yang tidak terealisasi, masalah listrik yang tidak masuk ke kepulauan, masalah perebutan jabatan di DPR, dan lain-lain.”

Sebagai konsumen media, kita disuguhi berita yang tidak berkualitas yang malah lebih viral daripada media-media berkualitas yang profesional.”

Yang dimaksud pemberitaan yang berkualitas adalah berita yang fokus pada kinerja instansi bukan malah mempersoalkan masalah status facebook, itu kan problem, mungkin karena status itu ditulis politisi ya, sehingga lebih viral,” ujar Sulaisi Abdurrazaq.

Dalam Diskusi Media tersebut, Rudi Hartono, salah satu wartawan yang menjadi korban pelecehan profesi wartawan yang dilakukan oleh oknum karyawan RSI Kalianget menyampaikan keluh kesahnya.

Sebenarnya teman-teman wartawan yang ada di Sumenep harus lebih tidak terima, jauh lebih tersinggung dan sakit hati bila profesi wartawan dikatakan
BANCI DAN WARTAWAN NOL KECIL seperti yang terjadi di RSI Kalianget, tapi hafekatidak dipersoalkan oleh teman-teman wartawan yang lain, apa karena yang mengatakan itu bukan wakil ketua DPRD?“, tanya Rudi dengan nada kesal.

Pada kesempatan yang sama, Moh. Rifai mengatakan bahwa, media-media yang profesional dan punya integritas di Sumenep tidak menulis soal status faceebook ecek-ecek, karena dengan menulis itu media itu menunjukkan dirinya ecek-ecek.

Perhatikan Radar Madura, Kabar Madura, Kompas Group, Surya, Antara, dan lain-lain tidak satupun yang menulis, soal status facebook media ecek-ecek, karena hal itu tidak ada dampak positif terhadap masyarakat luas, hanya masalah ketersinggungan antara salah satu wartawan dengan seorang anggota DPR, muter-muter di sana aja, ujar Moh. Rifai kepada peserta.

Penasehat PWI Sumenep itu menyanpaikan bahwa, “saat ini banyak wartawan dadakan tanpa pengetahuan tentang jurnalisme, tak tahu kode etik, minus kompetensi.

Banyak wartawan standart ganda, merangkap LSM, merangkap pengacara bahkan merangkap preman.” ujar Moh. Rifai serius.

Selain itu banyak perusahaan media yang tidak memenuhi standart Undang-Undang, kantor bersama dengan LSM, bersama kantor kontraktor, bahkan ada yang satu ruangan dengan toko

MADURAKU.COM/See