Warisan Budaya Dunia Dibakar Pengunjuk Rasa di Pamekasan

oleh -
Aksi pembakaran warisan budaya dunia dari Indonesia, yakni batik tulis oleh kelompok pengunjuk rasa dan aksi ini berlangsung di depan kantor Pemkab Pamekasan, 18 September 2019.

MADURAKU.COM – Warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia, yakni batik tulis, dibakar oleh sekelompok orang di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, dan aksi pembakaran ini menuai protes kalangan pembatik di wilayah itu.

Para perajin batik tulis di Kabupaten Pamekasan menilai, aksi pembakaran batik tulis bermotif “Sekar Jagad” itu merupakan pelecehan terhadap karya seni dan tidak seharusnya dilakukan, apalagi aksi pembakaran batik yang merupakan warisan budaya itu, di ruang publik.

Aksi pembakaran batik tulis motif “Sekar Jagad” ini dipimpin oleh seorang pemimpin unjuk rasa pada kegiatan unjuk rasa yang digelar pada 18 September 2019 di Kabupaten Pamekasan bernama Zaini Wer-wer.

Beberapa media online melangsir, aksi itu dimaksudkan untuk memprotes kepemimpinan Baddrut Tamam-Raja’e, yakni Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan yang dinilai kurang berpihak kepada kepentingan petani tembakau. Batik Sekar Jagar yang dibakar pengunjuk rasa itu merupakan motif batik yang digunakan Baddrut-Raja’e saat mencalonkan diri sebagai pasangan Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan pada 2018.

Namun, akademisi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura Abd Hanan menyatakan, kasus pembakaran batik tulis oleh sekelompok orang saat berunjuk rasa di kantor pemkab setempat beberapa hari lalu, berpotensi menimbulkan konflik horizontal yang lebih luas.

“Ini terjadi, karena batik itu tulis itu merupakan hasil sebuah karya,” kata dosen ilmu sosiologi ini di Pamekasan, seperti dilansir situs tagar.id, Sabtu (21/9/2019).

Membakar hasil sebuah karya seni, menurut dia, berpotensi menimbulkan persepsi publik, bahwa pelaku telah melecehkan hasil karya seni perajin batik tulis para perajin batik di Pamekasan.

Alumni magister FISIP Unair jurusan sosiologi ini selanjutnya menyarankan pihak-pihak berwenang hendaknya segera melakukan pencegahan dini, agar kasus itu tidak meluas, apalagi hingga terjadi benturan antara para perajin batik yang merasa hasil karyanya dilecehkan dengan kelompok orang yang melakukan pembakaran batik tulis tersebut.

“Konflik itu kan sebenarnya persinggungan kepentingan, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Makna kepentingan ini bisa beragam, namun secara umum selalu memuat dua hal, yakni kekuasaan dan material,” urai Hannan.

“Saya kira jika ditanya, apakah pembakaran batik ini akan menuai konflik, saya rasa jawabannya, iya. Karena walau bagaimana pun, batik selain merupakan komoditas ekonomi lokal, lebih penting dari merupakan salah satu nilai kearifan lokal masyarakat,” katanya, menegaskan.

Hannan yang juga mengaku bangga dengan batik tulis Pamekasan dan kini sudah banyak dikenal di luas daerah ini menyatakan, motif batik tulis “Sekar Jagat” yang dibakar oleh sekelompok orang saat berunjuk rasa di kantor Pemkab Pamekasan itu merupakan ciri khas masyarakat setempat.

“Maka, secara sosiologis, hal-hal yang berkenaan dengan nilai-nilai lokalitas, jika itu diganggu, katakanlah dibakar, tentu akan mengundang reaksi dari masyarakat. Terutama mereka yang selama ini bergelut dalam dunia kreativitas batik,” katanya.

Sebelumnya, pada 18 September 2019 sekelompok orang berunjuk rasa ke kantor Pemkab Pamekasan dan membakar batik tulis motif “Sekar Jagad” karena kelompok ini mengaku kecewa atas murahnya harga beli tembakau petani.

Pengunjuk rasa membakar batik tulis itu, karena batik “Sekar Jagad” digunakan oleh Bupati Pamekasan Baddrut Tamam dan Wakilnya Raja’e saat mencalonkan diri sebagai padangan Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan pada pilkada 2018 hingga akhirnya terpilih sebagai pasangan Bupati dan Wakil Bupati Pamekasan Periode 2019-2024.

Namun, aksi bakar batik pengunjuk rasa ini justru melukai perasaan para perajin batik tulis di Kabupaten Pamekasan dan mereka menilai, aksi itu merupakan bentuk penghinaan terhadap hasil karya seni, apalagi batik motif “Sekar Jagad” yang merupakan batik kebanggaan masyarakat Pamekasan.

“Kalau kecewa terhadap harga tembakau seharusnya mereka membakar tembakau bukan batik tulis yang merupakan hasil karya seni perajin batik tulis di Pamekasan,” kata Sekretaris Asosiasi Perajin Batik Tulis dan Bordir Pamekasan Ahmadi, Sabtu (21/9/2019).

Kasus pembakaran batik oleh pengunjuk rasa beberapa hari lalu, menurut dia, merupakan bentuk tindakan yang memancing emosi perajin, sehingga akan membuka ruang konflik antara para perajin batik dengan sekelompok orang yang berunjuk rasa itu.

Terkait pernyataan pengunjuk rasa bahwa pembakaran itu dimaksudkan sebagai bentuk protes pada Baddrut Tamam karena motif batik tersebut digunakan sebagai seragam yang bersangkutan, Ahmadi dan para perajin batik lainnya menyatakan, bahwa batik “Sekar Jagad” lebih dulu dibanding bupati.

Sehingga, pembakaran batik tulis oleh pengunjuk rasa itu, tetap melukai perasaan para perajin batik di Kabupaten Pamekasan. (MADURAKU.COM)