Hari Bhayangkara Momentum Berbenah Menuju Lebih Baik

oleh -
Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo saat menyampaikan pidato deklarasi Tolak Kerusuhan di area Monumen Arek Lancor, Pamekasan sebagai kegiatan rangkaian dari HUT Ke-73 Bhayangkara

Tanggal 1 Juli 2019 ini, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Bhayangkara. Beragam kegiatan telah digelar institusi penegak hukum di berbagai penjuru di Tanah Air, seperti bakti sosial, jalan-jalan sehat dan berbagai jenis kegiatan lomba bernuansa edukatif lainnya, guna memeriahkan Hari Kepolisian Nasional ini, yang ditandai dengan lahirnya Peraturan Presiden atau Ketetapan Pemerintah nomor 11/SD/1946 tertanggal 1 Juli 1946.

Bhayangkara itu sendiri sebenarnya berasal dari bahasa sansekerta, yang artinya penjaga, pengawal, pelindung, dan pengaman keamanan masyarakat. Makna substantif dari perayaan hari ulang tahun ini sebenarnya adalah mensyukuri atas segala berkat dan anugerah Tuhan yang telah diterima oleh yang merayakannya. Berkat dan anugerah Tuhan yang patut disyukuri ini, tentu tidak hanya pada hal-hal yang bersifat lahiriah saja, akan tetapi juga yang bernuansa batiniah.

Makna penting lainnya adalah introspeksi diri. Mempelajari, mengkaji, dan memahami banyak hal yang menjadi kekurangan selama ini, merupakan sesuatu yang penting agar kedepan lebih baik dalam bersikap, dan lebih dewasa dalam menyelesaikan berbagai persoalan, serta lebih matang dalam bersikap. Apa yang perlu dilanjutkan dan apa yang harus ditinggalkan, serta apa yang perlu diperbaiki guna menata kembali kehidupan di masa yang akan datang merupakan momentum yang tepat dilakukan di Hari Ulang Tahun Bhayangkara kali ini. Dengan demikian, maka hari ulang tahun sejatinya merupakan momentum untuk memulai sesuatu yang baru dan meninggalkan segala kekurangan dan kelemahan yang terjadi pada masa lalu, dan merancang rencana masa depan yang lebih baik, sesuai dengan semangat juang dan cita-cita para pendahulu bangsa ini.

Berorientasi pada masa depan yang lebih baik dengan menjadikan kejadian masa lalu sebagai referensi untuk berbuat baik dalam menjalankan tugas-tugas sebagai pengayom dan pelindung masyarakat merupakan sunnatullah, karena sejatinya masa depan yang baik seringkali terbentuk dari pengalaman masa lalu yang kurang baik.

Di lingkup Polres Pamekasan, hingar bingar HUT Bhayangkara ke-73 ini sudah dimulai sejak beberapa hari lalu yang ditandai dengan berbagai kegiatan yang diselenggarakan institusi ini. Antara lain jalan-jalan sehat bersama masyarakat dan deklarasi bersama tolak Kerusuhan, bhakti sosial donor darah, dan beragam jenis kegiatan lain yang berorientasi pada pendidikan publik dan upaya menyadarkan masyarakat agar melek hukum, taat aturan dan penanaman sikap toleransi antarsesama. “Peringatan Hari Bhayangkara adalah pengingat bagi kita agar lebih meningkatkan pengabdian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat,” kata Kapolres Pamekasan AKBP Teguh Wibowo dalam sebuah kesempatan kepada media.

Misi dakwah dan Kepekaan Sosial
Bagi Kapolres AKBP Teguh Wibowo, HUT Ke-73 Bhayangkal ini, tidak hanya sebatas kegiatan yang digelar secara rutin setiap tanggal 1 Juli dengan beragam rangkaian kegiatan, akan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah mengisi berbagai rangkaian kegiatan dengan hal-hal yang positif dan berorientasi pada asas manfaat untuk semuanya. HUT Bhayangkara, menurut dia, harus menjadi media dakwah, sehingga manfaat yang dirasakan bukan hanya untuk kalangan internal Polri, dalam konteks ini adalah Polres Pamekasan, akan tetapi semua elemen masyarakat Pamekasan.

Dasar pertimbangan ini pula yang menjadikan Polres Pamekasan menggelar kegiatan bernuansi sosial, seperti khitanan massal dari kalangan keluarga kurang mampu, sebagai rangkaian dari kegiatan HUT Ke-73 Bhayangkara. Sedikitnya 40 anak dikhitan massal pada kegiatan khitanan massal gratis yang digelar gedung Bhayangkara Polres Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Sabtu (22/6/2019) pukul 08.00 WIB kala itu.

Aksi bagi-bagi helm kepada para pengendara kendaraan bermotor juga menjadi bagian dari kegiatan bhakti sosial dalam memeriahkan HUT Ke-73 Bhayangkara Polres Pamekasan disamping jenis kegiatan lainnya, seperti bantuan sembako kepada warga yang miskin dan kurang mampu. “Nilai bantuan yang kami berikan memang tidak seberapa, tapi kami ingin menjadikan momentum ini sebagai media untuk berbuat baik kepada sesama,” kata kapolres.

Di bidang keagamaan, HUT Ke-73 Bhayangkara ini, justru dijadikan momentum penyebaran dakwah Islamiah, dengan menggelar lomba Tahfidz Alquran, seperti yang digelar pada 28 Juni 2019 di aula Gedung Bhayangkara Polres Pamekasan. Para terdiri 2 orang utusan perwakilan di masing-masing polsek yang tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Pamekasan, serta siswa tingkat SD/MI se-Kabupaten Pamekasan. Lomba ini dimaksudkan sebagai bentuk kepedulian Polres Pamekasan terhadap pendidikan agama Islam. “Adapun tujuannya adalah agar membentuk jiwa Qurani sebagai penerus bangsa yang agamis,” ujar kapolres.

Mantan Kapolsek Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini menyadari betul, bahwa upaya untuk menciptakan generasi muda Islam yang Qurani harus dipupuk sejak dini, dan salah satunya harus melalui kegiatan sistemik dan berkelanjutan. Setiap momen adalah kesempatan untuk berbuat baik dan setiap momen merupakan kesempatan untuk menjalankan misi dakwah, termasuk momentum HUT Bhayangkara.

Ajang Introspeksi Diri
Makna paling hakiki dari HUT Bhayangkara ini, menurut Kapolres AKBP Teguh Wibowo, sebenarnya bukan pada kegiatan seremoninya belaka, dan bukan pula pada suasana yang hingar bingar, akan tetapi bagaimana menjadikan momentum itu sebagai ajang introspeksi diri. Sebab, dalam pelaksanaan tugas selama ini, masih ada sebagian personel yang belum mencerminkan dirinya sebagai seorang Bhayangkara, yaitu sebagai penjaga, pengawal, pelindung, dan pengaman keamanan masyarakat.

Tema HUT Bhayangkara “Dengan Semangat Promoter, Pengabdian Polri untuk Masyarakat, Bangsa dan Negara” setidaknya menjadi pemicu untuk terus berbenah. Di beberapa pemberitaan media massa, masih ditemukan adanya oknum anggota kepolisian yang melakukan tindak pidana, tidak disiplin, bahkan ada yang diketahui terlibat kasus narkoba.

Berbagai tindak pidana tersebut, disadari atau tidak, akan memberi andil yang besar bagi memburuknya citra kepolisian di masyarakat. Padahal, sejatinya polisi adalah penjaga, pengawal dan pelindung masyarakat. Aparat kepolisian mestinya bertindak sebagai orang yang bisa menjadi panutan dan contoh bagi masyarakat. Setiap tindakan polisi, baik tutur katanya maupun tingkah laku dan perbuatannya harus menjadi cermin bagi masyarakat bahwa perbuatan tersebut adalah baik dan patut ditiru oleh masyarakat di sekitarnya.

Karena itu, di HUT Ke-73 Bhayangkara ini merupakan momentum yang tepat untuk merenungkan dan merefleksikan berbagai kekurangan dan kelemahan yang sudah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya yang mengakibatkan buruknya citra lembaga kepolisian di masyarakat. Momentum ini juga harus menjadi kesempatan untuk menanggalkan dan melupakan hal-hal lama yang buruk. Selanjutnya menjadi kesempatan untuk memulai dengan hal-hal baru yang bernilai positif, membangun kembali jati diri anggota kepolisian guna membangun kembali citra lembaga kepolisian. (Bersambung ke-5)