Di Kepemimpinan Baddrut Tamam, Madura United Jadi Pengelola Stadion Pamekasan

AQ-Habib

Presiden Klub Madura United FC Achsanul Qosasi didampingi Direktur PT Polana Bola Madura Bersatu (PBMB) Ziaul Haq saat memantau latihan di Stadion Pamekasan, Jumat (5/4/2019) malam.

MADURAKU.COM – Pertandingan kandang antara Madura United FC melawan Persebaya Surabaya pada laga perempat final Piala Presiden 2019, akan menjadi sejarah baru bagi klub sepak bola berjuluk “Laskar Sape Kerrap” itu.

Sebab, saat itu juga, Madura United FC akan menjadi pengelola stadion yang terletak di Desa Ceguk, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan tersebut.

Sebelum pertandingan, akan digelar akan digelar penandatangan nota kesepahaman (MoU) tentang pemanfaatan stadion Pamekasan antara Pemkab Pamekasab dengan pihak Madura United.

“Penanda tanganan MoU tentang pemanfaatan Stadion Pamekasan ini akan digelar besok, sebelum kick off melawan Persebaya,” kata Presiden Klub Madura United FC kepada penawarta.com, saat memantau latihan klub Laskar Sape Kerrap itu, Jumat (5/4/2019) malam.

Selain penanda tanganan MoU antara pihak Madura United FC dengan Pemkab Pamekasan juga akan diluncurkan nama stadion Pamekasan yang baru, yakni Gelora Ratu Pamelingan oleh Bupati Pamekasan Baddrut Tamam.

Perubahan nama stadion dari Stadion Gelora Ratu Pamelingan sesuai dengan pernyataan Bupati Baddrut Tamam saat menghadiri acara Hari Ulang Tahun Madura United pada Desember 2018 di Kantor Pojur Jalan Raya Panglegur, Pamekasan.

Kala itu, bupati muda asal Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan itu menjelaskan, usulan nama baru dari Stadion Gelora Ratu Pamelingan menjadi Gelora Madura Ratu Pamelingan, karena stadion Pamekasan ingin menjadi icon stadion sepak bola di Pulau Madura.

Selain itu, lokasi stadion memang berada di tengah Pulau Madura yang merupakan bekas Karesidenan.

“Saya ingin, tuah sepak bola Madura ini, ada disini di Pamekasan yang kita cintai ini,” kata Bupati Baddrut Tamam kala itu.

Manajemen Madura United FC sebenarnya telah mengajukan sebagai pengelola Stadion Pamekasan sejak stadion ini baru saja diresmikan pada 18 November 2016 dengan nama “Stadion Pamellengngan”.

Dalam perkembangannya, nama itu diubah, menjadi “Gelora Ratu Pamelingan” dan nama itu lebih dikenal di kalangan masyarakat Pamekasan menjadi Stadion Gelora Ratu Pamelingan (SGRP).

“Nama Ratu Pamelingan ini merupakan nama Ratu di masa kerajaan yang merupakan raja Islam pertama Pamekasan yakni Panembahan Ronggosukowati,” kata Bupati Pamekasan kala itu, Achmad Syafii, seperti dilansir liputan6.com, Selasa (22/11/2016).

Penetapan nama Gelora Ratu Pamelingan/Stadion Gelora Ratu Pamelingan (SGRP) untuk stadion baru yang terletak di Desa Ceguk, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan itu, setelah orang nomor satu di lingkungan pemkab itu, meminta pertimbangan dan masukan kepada ahli sejarah dan budayawan Pamekasan.

Ini dilakukan, menyusul banyaknya masukan dari masyarakat penggemar sepak bola di Pamekasan yang menginginkan agar nama stadion mudah diucapkan, memiliki nilai jual dan populer.

Sebelumnya saat peresmian, pemkab mengumumkan nama stadion itu dengan nama “Stadion Pamellengngan”. Nama itu berasal dari kata “melleng” yang berarti bertafakur atau bersemedi.

Namun, nama itu menuai protes masyarakat di berbagai jejaring sosial, sehingga bupati mengundang kembali tim ahli sejarah Pamekasan dan budayawan setempat, meminta masukan agar nama stadion lebih familiar.

“Dari hasil pertemuan tadi itulah, maka tim mengusulkan agar sebaiknya memberi nama tokohnya saja yakni Ratu Pamelingan, dan saya setuju nama itu,” jelas bupati Achmad Syafii kala itu.

Perubahan nama menjadi “Stadion Gelora Ratu Pamelingan (SGRP) itu lalu diumumkan kepada publik pada tanggal 23 November 2016, dengan memampangkan nama berupa spanduk dan baliho di stadion baru itu.

Sejarawan Pamekasan dari Yayasan Pakem Maddu Kutwa kala itu menjelaskan, Ratu Pamelingan merupakan ratu pertama yang memiliki keturunan menjadi raja Islam pertama di Pamekasan, yakni Panembahan Ronggosukowati.

Jika, nama stadion Pamekasan menjadi Gelora Ratu Pamelingan, maka nilai sejarah akan masuk di dalamnya, dan akan lebih familiar, mengingat lagu-lagu tentang Pamelingan juga sudah ada banyak dikenal masyarakat.

Maka dengan perubahan nama dari “Stadion Gelora Ratu Pamelingan”, menjadi “Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan” merupakan perubahan kali ketiga, sejak stadion itu resmi dimanfaatkan pada 18 November 2016.(PENAWARTA.COM)AQ-Habib

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.