Resensi Buku: Ketika Karisma Melahirkan Kuasa

Oleh: Istianah el-Ramla
Bicara soal Madura tak bisa lepas dari tradisi carok. Wilayahnya yang tandus dan sempit telah melahirkan kemiskinan sosial-ekonomi, yang pada gilirannya membentuk karakter masyarakat yang keras, dan dalam titik nadirnya melahirkan perilaku perbanditan (blater). Uniknya, dengan mayoritas penduduknya muslim, peran kiai pun dominan. Maka, kiai dan blater menjadi dua kekuatan sosial yang bersaing.

Dalam berbagai penelitian seputar Madura, relasi dua kekuatan ini tak pernah muncul. Riset Kuntowijoyo, misalnya, cuma melihat aspek ekologis. Sedangkan penelitian A. Latief Wiyata mengulas soal carok sebagai bentuk penegakan harga diri. Abdur Rozaki dalam buku ini menguak relasi perebutan kuasa dua kekuatan itu dalam medan sosial, ekonomi, dan politik.

Di Madura, kiai bukan saja ahli agama, juga tempat meminta jimat, mantra penyembuhan, selain guru ilmu kanuragan. Dalam perkembangannya, kiai menguasai banyak wilayah sosial di masyarakat, yang secara ekonomi dan politik sangat menguntungkan.

Adapun blater adalah orang yang berkemampuan olah kanuragan, ilmu kebal dan daya magis yang bisa mendukung tindak kriminal. Orang Madura sendiri terkesan mendua dalam memandang sosok blater. Satu sisi, mereka mencitrakannya sebagai pelindung masyarakat, sopan, dan tidak sombong. Sisi lain, blater disebutnya “bajingan” karena tidak menjalankan peran sosial yang baik.

Berdasarkan analisis Rozaki, dua kekuatan itu tidak saja sangat berpengaruh, bahkan berebut kuasa. Dengan cara masing-masing, mereka membangun relasi kuasa atas masyarakat. Kiai, melalui proses kultural, melakukan Islamisasi. Mereka mendirikan langgar, pesantren, dan sekolah agama untuk transfer pengetahuan dan sosialisasi agama. Pada akhirnya, kiai menjadi kekuatan hegemonik, karena perannya yang dominan dalam mengonstruksi struktur kognitif dan tindakan sosial masyarakat.

Sedangkan blater membangun eksistensi kekuasaannya dengan praktek kriminalisasi, seperti carok, sabung ayam, remoh (pertemuan antar-blater), serta pencurian dan perampokan. Dengan praktek semacam itu, sosok blater menjadi kekuatan sosial yang sangat berpengaruh.

Menurut Rozaki, dua kekuatan ini berperan penting dalam pembentukan karakter sosial masyarakat Madura. Misalnya sikap keras dan pembelaan harga diri dengan taruhan nyawa, serta profetisasi dan profanisasi yang bersimbiosis dalam kebudayaan Madura.

Kekuasaan dari dua kekuatan sosial ini, dalam berbagai konteks, bisa bertemu dan atau malah berebut dengan motif sosial, ekonomi, dan politik. Misalnya dalam kasus pemilihan kepala desa dan gubernur.

Kenyataan itu tidak saja memberi gambaran bahwa kekuatan “karisma” begitu signifikan di Madura. Lebih dari itu, di tengah motif sosial, ekonomi, dan politik, kiai ternyata mudah menggeser perannya: dari penjaga moral agama menjadi pemburu kepentingan profan. Kekuatan fisik blater yang menjadi pilar tindakan kriminal ternyata masih kuat membentuk karisma di tengah masyarakat, yang pada gilirannya dapat meraup kekuasaan.

Dalam konteks kajian soal Madura, seperti diakui Kuntowijoyo –dalam catatannya untuk buku ini– Rozaki telah melakukan teror mental. Sebab, selama ini kajian tentang Madura hanya berkisar soal kiai, masjid, dan pesantren. Namun lewat buku ini, dia menyajikan sosok blater (jagoan) dengan berbagai jaringan dan peran sosialnya di masyarakat serta relasinya dengan kiai sebagai kekuatan dominan.

Penemuan Rozaki ini tak lepas dari objek kajian yang dia pilih, yaitu dua kabupaten: Sampang dan Bangkalan. Sebab, di dua kabupaten ini, tradisi blater tumbuh dan mengakar kuat. Di sana juga terdapat dinasti kiai Khalil yang pengaruhnya begitu kuat, tidak saja di Madura, melainkan juga di Jawa dan Kalimantan.

Buku ini menarik dibaca. Bukan hanya bagi para pengkaji Madura, juga para peminat kajian sosial. Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Madura, Rozaki tak saja mengungkap relasi unik antara kiai dan blater di Madura secara detail. Ia juga menyadarkan kita betapa kekuatan-kekuatan besar di masyarakat selalu melakukan dominasi wacana, baik secara kultural maupun politik. Dan masyarakat selalu sulit berkelit dari dominasi tafsir sosial dan politik yang hegemonik. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.