Inilah Peranan Tembakau dalam Pembangunan Berkelanjutan

Ketua Umum APTI Soeseno dalam acara media briefing di Pamekasan, Madura, Sabtu (12/5/2018)

MADURAKU.COM -Industri Hasil Tembakau (IHT) di Indonesia memiliki peran cukup besar terhadap penerimaan negara melalui pajak dan cukai. Selain itu, kehadiran IHT juga memberi dampak positif lain, seperti penyerapan tenaga kerja, penerimaan dan perlindungan terhadap petani tembakau dan dampak ganda yang lain.

Sayangnya, gaung suara sumbang terhadap keberadaan IHT cukup nyaring. Padahal, pengembangan IHT juga memperhatikan kesehatan masyarakat, selain tetap mengusahakan agar industri dapat tumbuh dengan baik. IHT merupakan industri yang padat karya, sehingga sampai saat ini IHT dan keterkaitannya dengan hulu berupa pengadaan bahan baku, khususnya tembakau dan cengkeh dan industri lainnya merupakan industri penyerap tenaga kerja yang potensial. Bahkan, Direktorat Bea dan Cukai (Siaran Pers, 3 Januari 2017) mengakui, pada tahun 2016, penerimaan negara dari cukai rokok sebesar kurang lebih 9 persen dari total penerimaan negara dari pajak. Sebuah angka yang cukup signifikan bukan?

Mengapa keberadaan IHT dan perkebunan tembakau seperti anak tiri. Dari sisi kontribusi pajak cukup besar, namun keberadaanya selalu dinomorduakan, bahkan seperti tidak diakui. Padahal, sesuai dengan UU Perkebunan No.39 Tahun 2014, tembakau merupakan salah satu (dari tujuh) Komoditas Perkebunan Strategis Nasional, karena dinilai memiliki peranan penting dalam pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup.

Ketua Umum APTI Soeseno menegaskan, bahwa komoditas tembakau sebagai tanaman turun-temurun merupakan bukti bahwa pertanian tembakau bisa berkelanjutan, karena budidaya tembakau adalah realitas kultural.

“Sampai dengan saat ini, komoditas tembakau masih menjadi komoditas pilihan di saat musim kemarau, karena masih mempunyai nilai ekonomi tinggi dibanding dengan komoditas pertanian lainnya,” kata Soeseno.

Penelitian menarik pernah dilakukan Universitas Airlangga pada 2013. Hasilnya, dengan luas lahan yang sama (per hektare), penerimaan tembakau (Rp 53.282.874) lebih tinggi dibanding penerimaan dari pertanian jenis lain, seperti jagung (Rp 4.607.162), cabai (Rp 9.429.971), dan bawang merah (Rp 7.537.791).

Penelitian ini dilakukan di wilayah Lombok Timur, Madura, Jember, Temanggung. Sedangkan data untuk cengkeh diambil dari wilayah Pacitan, Sukabumi, Minahasa, dan Buleleng.**data lengkap dilampiran.

“Dari hasil penelitian tersebut, bisa dilihat fakta menarik, bahwa komoditas tembakau dan cengkih lebih menguntungkan dibandingkan komoditas lainnya,” ungkap Soeseno.

Sektor tembakau terbukti memberikan multiplaier effect yang signifikan dalam pembangunan Indonesia, selain kontribusi ekonomi ke negara, sektor tembakau juga terbukti menyerap tenaga kerja lebih dari 6 juta orang, tegas Soeseno

Soeseno menambahkan, dalam perkembangannya petani tembakau juga telah berupaya untuk menerapkan sistem budidaya pertanian yang baik dan sesuai dengan arah sasaran pembangunan berkelanjutan, mengingat pertanian tembakau lebih memiliki surplus ekonomi, sehingga menjamin kesinambungan investasi pada budidaya tanaman selanjutnya.

Laporan Brundtland dari PBB (1987) menyebut, pembangunan berkesinambungan adalah proses pembangunan baik lahan, kota, bisnis, masyarakat dan lain sebagainya yang berprinsip mencukupi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kebutuhan generasi masa depan. Proses pembangunan berkesinambungan ini mengoptimalkan penggunaan sumber energi alam, sumber energi manusia dan iptek. Dengan menserasikan ketiga komponen selanjutnya sehingga mampu berkesinambungan.

Seperti diketahui, target ada pembangunan berkesinambungan di antaranya; (1). Mengatasi segala wujud kemiskinan di semua tempat(baik desa, kota dan lain sebagainya), (2), Memastikan pendidikan yang layak, memiliki kualitas dan inklusif dan juga mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang, (3) Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan, (4) Mengakhiri kelaparan bersama dengan menggalakkan pertanian berkelanjutan, meraih ketahanan pangan dan perbaikan nutrisi.

Selanjutnya, (5) Memastikan akses energi yang terjangkau, mampu diandalkan, berkesinambungan dan modern, (6) Mengurangi kesenjangan baik di dalam dan antar negara, (7) Membangun infrastruktur yang kuat, mempromosikan industrial berkesinambungan dan mendorong inovasi, lalu (8) Mempromosikan pertumbuhan ekonomi berkesinambungan dan inklusif dan juga lapangan pekerjaan yang layak bagi semua orang, (9) Mengambil cara penting untuk melawan pergantian iklim beserta dampaknya, (10) Menghidupkan kemitraan dunia dan manfaat pembangunan berkelanjutan.

Berikutnya, (11), Mendorong masyarakat yang adil, damai dan inklusif, (12) Mengelola hutan secara berkelanjutan, melawan pergantian lahan jadi gurun, menghentikan dan merehabilitasi rusaknya lahan, dan juga menghentikan kepunahan keanekaragaman hayati.

Peran petani, pertanian tembakau dan industri hasil tembakau yang cukup besar tersebut tidak berlebihan sekiranya, jika sektor ini searah dengan semangat pembangunan berkelanjutan.

Sudah semestinya jika para petani tembakau meminta untuk dilibatkan dalam penentuan kebijakan sektor tembakau, ada hak petani untuk memberikan masukan dalam proses penyusunan kebijakan yang memiliki dampak langsung terhadap petani,

Tentang AMTI
Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) dideklarasikan pada tanggal 25 Januari 2010 oleh para pemangku kepentingan industri tembakau sebagai suatu wadah perjuangan bagi petani tembakau, cengkeh, pekerja, konsumen, peritel, asosiasi, maupun pabrikan rokok dalam rangka melestarikan industri tembakau Indonesia yang berkualitas.

Tujuannya, sebagai wadah dan wahana perjuangan bagi para petani tembakau, petani cengkeh, pekerja, konsumen, peritel, asosiasi, maupun pabrikan rokok. Juga membangun kebersamaan untuk melestarikan industri tembakau Indonesia yang berkualitas yang berprinsip dari Indonesia untuk Indonesia, menempatkan Industri Tembakau sebagai salah satu industri prioritas nasional setara dengan industri lain, ikut serta dalam merumuskan konsep-konsep regulasi/undang-undang tembakau yang, berimbang dan komprehensif yang dapat diterima oleh pembentuk Undang-undang, serta melestarikan eksistensi industri rokok, khususnya kretek yang merupakan produk budaya bangsa untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan dijadikan komoditas global.

Selain itu, AMTI juga ingin mempertahankan dan mengembangkan industri tembakau rakyat, dan mengupayakan pengembangan tembakau virginia, oriental dan white burley sebagai bahan baku industri rokok untuk substitusi impor, dan berjuang dengan menjunjung tinggi transparansi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (MADURAKU.COM)

Baca Berita Lainnya Terkait LSM di Pamekasan:

Baca Juga Berita Lainnya:

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.