Tukang Sate Madura Ini Akhirnya Naik Haji

H Abbas di depan gerobak satenya,

Meski terlihat masih tangkas memanggang tumpukan sate daging kambing dan ayam di atas tungku, pada usia 63 tahun Madraji tahu diri. Ia mengibaskan kipas dengan irama, membuat arang yang semula hitam berubah menjadi merah membara. Asap yang mengepul menebar aroma daging panggang sungguh mengundang selera.

“Saya bantu bakar-bakar, tapi tidak seperti dulu. Jari-jari ini sering cekot-cekot,” kata lelaki asal Sampang, Madura, itu membuka percakapan diiringi tawa lepas. DetikX menemui Madraji di warungnya, di ujung Jalan Kwini, dekat Plaza Atrium, Senen, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Januari 2016. Lelaki kelahiran Cirebon pada 1953 itu membuka warung sate di sana sejak 1992.

Sebelumnya, ia berkeliling mendorong gerobak dari kontrakannya di Kramat Sentiong sampai Pasar Baru, yang berjarak sekitar 6 kilometer. “Mangkal di sini sejak 1992. Waktu itu Atrium baru dibangun, jadi daerah ini ramai,” tuturnya.

Warung Madraji, yang sebelumnya bernama Warung Anda, tampak sederhana. Di sana cuma ada tiga meja untuk menampung sekitar 15 pembeli. Bila jam makan siang tiba, ruangan menjadi sesak. Maklum, Madraji juga harus berbagi ruang dengan penjual bakso di sebelahnya. Di balik kesederhanaan itu, sate buatan Madradji punya pelanggan istimewa. Bukan cuma para pekerja kantoran dan beberapa instansi pemerintah di kawasan Senen, salah satu restoran di Hotel Borobudur pun menjadi pelanggan tetapnya. “Sekali pesan bisa sampai 500 tusuk, bahkan bisa bertambah kalau ada acara khusus,” ujar pria yang menunaikan haji pada 2006 itu.

Sebelum berbincang, detikX sengaja datang sebagai pembeli biasa. Selain ukuran dagingnya yang tergolong besar, sate buatan Madraji terasa segar, empuk, dan tak bau amis. Bumbu kacangnya pun terasa segar. Tak ada rasa kacang yang gosong. Lontongnya pun kenyal, membuat perut terasa cepat penuh terisi.

Sebetulnya menjadi tukang sate bukanlah cita-cita Madraji. Menjadi hafiz atau penghafal Al-Quran adalah obsesinya. Tak aneh bila, sebelum lulus sekolah dasar, ia memilih mondok di pesantren milik KH Usman Ali di Surabaya. Tiga tahun di sana, ia hijrah ke Pondok Pesantren Buntet di Cirebon. “Ternyata saya enggak hafal-hafal juga,” ujarnya tertawa.

Lepas usia remaja, Madraji merantau ke Kuningan, Jawa Barat. Berbekal keahlian meracik bumbu sate dari orang tuanya, ia bertekad menjadi tukang sate keliling. Karena usahanya itu sepi, Sumedang menjadi tujuan berikutnya. Di kota tahu itu, ia menemukan hoki. Usahanya terbilang sukses, hingga ia bisa membeli rumah. Di kota ini pula Madraji memutuskan menikahi Maitun. Tapi perempuan yang terbilang masih kerabatnya itu tak betah dan meminta hijrah ke Jakarta pada 1978.

Ia manut. Rumahnya dijual untuk modal berbisnis besi tua, yang lazim ditekuni orang-orang Madura di pinggiran Ibu Kota. Tapi usaha ini bukan bidang Madradi. Ia bangkrut, lalu banting setir menjadi kuli bangunan. Ketika putra pertamanya lahir pada awal 1980, akhirnya ia kembali ke pekerjaan yang menjadi keahliannya: tukang sate!

Kini, setiap hari Madraji menghabiskan dua ekor kambing, 30 ekor ayam, dan 5 ekor bebek. Total sekitar 2.000 tusuk sate dibuatnya. Selain di seberang Mal Atrium Senen, tiga tahun lalu ia membuka warung sate di kompleks Apartemen Sunter Park View di Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara. Soal keuntungan yang didapat, Madraji cuma tertawa saat ditanya. “Syukur tidak ngontrak lagi, anak-anak pun bisa dapat rumah satu-satu dan ada yang jadi sarjana,” ujarnya.

Secara terpisah, menurut H Abbas, 49 tahun, penjual sate asal Desa Galis, Bangkalan, hampir 90 persen warga di desanya menjadi penjual sate di berbagai daerah. Ia pribadi menekuni pekerjaan itu sejak 1989. Sebelum membuka dua warung di depan Wisma Tani dan Kebun Binatang Ragunan, ia menjajakan sate berkeliling kampung dengan gerobak. Keahlian membakar sate dan meracik bumbu biasanya diwariskan dalam keluarga. Dalam sehari sekarang ia bisa menjual hingga 1.500 tusuk sate. “Saya menggunakan arang batok kelapa. Kalau arang kayu cepat jadi abu,” ujarnya.

Para pedagang sate di Jakarta, kata Abbas, selain berkelompok berdasarkan asal desanya, membentuk komunitas berdasarkan pesantren tempat mereka menimba ilmu. Ia mencontohkan dirinya yang menjadi ketua perkumpulan tukang sate alumni pesantren Sumurnangka, Bangkalan. “Perkumpulan ini berdiri sejak 27 tahun lalu,” ujarnya saat ditemui detikX di rumahnya di Jatipadang Utara, Jakarta Selatan, Selasa, 19 Januari.

Memiliki rumah mentereng dan menunaikan haji beberapa tahun lalu, ditambah keempat anaknya yang bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi, menjadi sukses tersendiri bagi Abbas. “Sukses itu kan relatif. Saya amat mensyukuri apa yang sudah ada sekarang,” ujar lelaki yang cuma tamatan sekolah dasar itu. (Dikutip dari Detik.Com)

Baca Juga Artikel dan Kliping Media Lainnya tentang Madura:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s