Dulu OB, Kini Hasan Jadi Juragan Kopi

Hasan, juragan kopi yang kini telah sukses di Jakarta

Baihaki, 19 tahun, cekatan merapikan puluhan renteng berbagai merek kopi siap saji yang dijejalkan pada setang sepedanya. Bagian belakang sepeda dipenuhi termos air panas, termos es, dan ratusan gelas plastik. Tampilan sepedanya jadi seperti kafe berjalan.

Bersama-sama sejumlah kawan yang tinggal kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, ia bersiap mengarungi jalan-jalan Jakarta. Bersaing dengan kendaraan-kendaraan bermotor menembus kemacetan petang kala para karyawan pulang kantor. Baihaki biasa mangkal di seputar Senayan dan Stadion Utama Gelora Bung Karno, yang dibuka pada tengah malam untuk pedagang seperti dirinya.

Ia hijrah ke Jakarta pada 2010 dari wilayah Gunung Kesan di Kabupaten Sampang, Madura. Kemiskinan membuat Baihaki lebih tertarik menuruti ajakan kawannya mencari nafkah di Ibu Kota ketimbang menamatkan pendidikan di sebuah sekolah menengah pertama. Ia pun melupakan keinginannya menuntut ilmu ke jenjang lebih tinggi.

“Anak-anak muda dari kampung kami maunya jadi polisi,” ujar Baihaki. Kawannya menimpali sambil menjentikkan jari dan tertawa lepas, “Tapi enggak ada ini (uang).”

Setiap hari Baihaki berdagang kopi seduh di kawasan Senayan sampai pukul 4 pagi. Pendapatannya tergolong lumayan. Ia mengaku bisa mengantongi rata-rata Rp 300 ribu. Namun musim hujan seperti saat ini menjadi momok baginya. “Kalau hujan dapat Rp 100 ribu saja sudah untung,” ujarnya. Meski demikian, ia tak melupakan kewajibannya sebagai anak dengan menyisihkan pendapatannya untuk dikirimkan kepada orang tuanya di Sampang.

Kawasan Jalan Prapatan Baru, Kwitang, menjadi salah satu markas besar bagi pedagang kopi keliling seperti Baihaki. Ratusan pedagang kopi keliling atau yang sering disebut “kopling” menetap berkelompok di pinggiran Kali Ciliwung belakang Hotel Aryaduta. Mayoritas dari mereka berasal dari Pulau Madura. Beberapa pengusaha menyediakan kamar untuk mereka. Pengusaha-pengusaha ini juga merupakan pemilik sepeda-sepeda yang dipakai pedagang kopi keliling itu. Salah satunya bernama Haji Hasan, 43 tahun.

Hasan masuk bisnis kopi keliling pada 1999 setelah perusahaan tempatnya bekerja sebagai office boy (OB) tutup akibat krisis moneter. Ia kemudian menjadi pedagang kaki lima menjajakan minuman botol di kawasan Monas. Pedagang roti keliling yang menggunakan sepeda menjadi inspirasinya untuk berjualan kopi dengan sepeda.

“Saya pikir-pikir jualan apa yang bisa diminati dan dinikmati orang-orang di kawasan perkantoran. Roti kurang laku, akhirnya saya pikir kopi salah satunya,” katanya.

Ia berkeliling di kawasan perkantoran di bilangan Kuningan, Sudirman, dan Thamrin. Dalam setahun, usahanya berkembang pesat. Hasan kemudian mengajak saudara-saudaranya bergabung. Pada 2003, ia mulai mengajak pemuda-pemuda tetangganya di Sampang. “Kami cari lahan dan teman-teman yang mau kerja, dengan syarat bawa identitas diri,” ujarnya. “Saya membelikan sepeda, mereka bisa cicil.”

Usaha Hasan terus berkembang. Dia tak lagi ikut berkeliling. Ia naik pangkat menjadi juragan, yang membuka toko dan memasok aneka bahan kebutuhan bagi para pedagang kopi keliling binaannya. Sebagai juragan yang meniti dari bawah, ia tak mau mengambil keuntungan terlalu besar. “Saya jual sama dengan harga di pasar. Untungnya ya dari harga distributor,” kata Hasan. Saat ini, sekitar 700 pedagang kopi keliling menjadi binaannya. Mereka tersebar di Jakarta dan Tangerang.

Hasan datang ke Jakarta 25 tahun lalu. Alasan mencari penghidupan lebih baik menjadi pemicunya. Namun ia justru terlunta-lunta di Ibu Kota. Maklum, bekal pendidikan yang dimiliki pas-pasan, modal rupiah pun nyaris nol. “Kala itu saya hanya bawa badan,” ujarnya mengenang.

Untuk bertahan hidup, Hasan bekerja serabutan. Menjadi kuli bangunan pernah dilakoninya di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Tiga tahun kemudian, ia beralih menjadi pedagang koran di wilayah Sarinah, Jakarta Pusat. Ia berprinsip, sejauh bukan pekerjaan kriminal, apa pun siap dijalaninya. “Di Jakarta, kami tidak boleh nganggur. Selama (kerjaan) halal, ya dilakoni,” ujarnya. (MADURAKU.COM/DETIK.COM)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s