Istana Orang Madura di Balik Limbah

 

Rumah M. Rifai bak Istana. Ia menekuni bisnis limbah sejak mahasiswa.

M. Rifai menekuni bisnis limbah sejak mahasiswa. Mitranya mulai Sariayu hingga Astra. Ia membangun rumah bak istana untuk keluarganya.

Punya aset miliaran rupiah dan tinggal di rumah nan megah tak membuat H Muhamad Rifai jumawa. Ia tak jarang bercengkerama dan ngopi bersama para pegawai di halaman rumahnya. Penampilannya pun jauh dari kesan glamor. Sehari-hari ia lebih nyaman cuma mengenakan kaus oblong putih, sarung, dan sandal jepit.

Di kawasan Klender, Jakarta Timur, lelaki berdarah Madura itu dikenal sebagai juragan besi tua dan aneka barang bekas. Rifai juga mengoperasikan tiga kapal tongkang untuk mengangkut pasir hasil tambang miliknya di Lampung.

Lelaki kelahiran 5 Oktober 1972 itu mulai merintis usaha besi tua sejak masih kuliah di Universitas Jayabaya, Jakarta, pada awal 1990. Banyak teman dan tetangga sekitarnya yang memandang sebelah mata melihat apa yang dilakoninya. Ia pun pernah dianggap gembel karena banyak mengurusi limbah. Tapi Rifai tak peduli. “Buat saya, yang penting halal dan bisa untuk biaya kuliah, apa saja dijalani,” katanya saat ditemui detikX di rumahnya, Sabtu, 14 November 2015. Ia mengaku baru menamatkan kuliahnya di Jurusan Administrasi Negara Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, pada pertengahan 1990-an.

Dengan modal awal Rp 500 ribu, ia mengajukan proposal untuk menangani limbah pabrik-pabrik di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur. Tapi yang merespons cuma Sariayu Martha Tilaar serta produsen sabun dan detergen merek Total. Setiap pekan, ia berhasil mengumpulkan 1-2 ton aneka rupa limbah. Mulai drum, kaleng, tripleks dan kayu bekas peti, hingga kardus dan plastik pembungkus. “Alhamdulillah, mereka masih mempercayai saya sampai sekarang,” kata Rifai.

Mulai akhir 1998, ia masuk kawasan industri di Cibitung, Bekasi. Beberapa pabrik besar, seperti Astra dan Sumitomo, menjadi mitranya. Untuk menangani volume limbah yang sangat besar, Rifai menjalin kerja sama dengan karang taruna dan koperasi. Ia juga membentuk badan usaha milik desa. “Sekarang sebetulnya bukan cuma orang Madura yang kayak saya. (Orang) Betawi, Sunda, Banten, Tionghoa juga ikut berburu limbah,” kata Rifai sambil terkekeh.

Untuk menjalankan usaha itu, sederet perizinan harus dipenuhi. Ia antara lain menyebut izin transporter dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. Izin ini terkait jenis limbah yang akan diangkut apakah tergolong B3 (bahan berbahaya dan beracun) atau non-B3. Juga ada izin penampungan sementara dari Kementerian Lingkungan Hidup. “Kalau di gudang rumah saya ini, semua limbah kering dan aman. Abang enggak mencium bau zat kimia, kan?” ujarnya.

Hanya, dalam setahun terakhir, dunia bisnis besi bekas tengah lesu. Sebab, harga jual ke pabrik peleburan merosot dari semula Rp 5.000 per kilogram menjadi sekitar Rp 3.000. Padahal ia harus membeli besi bekas dari pabrik rata-rata Rp 3.200-4.200 per kilogram. Sedangkan untuk karet, ia mengaku biasa membelinya seharga Rp 1,2 juta per truk.

Limbah besi, karet, kayu, dan kardus yang telah dipilah para pegawainya, bila masih bernilai ekonomis, selanjutnya dikirim ke perusahaan peleburan di Cakung dan Tangerang. Sedangkan limbah yang sudah tak bernilai ekonomis dibuang ke tempat pembuangan akhir sampah di Burangkeng, Bekasi. “Total biayanya Rp 600 ribu per pikap,” ujarnya.

Namun, jika di antara limbah itu terdeteksi mengandung B3, ia harus kembali merogoh kocek 1.500 per kilogram untuk CV Lut. Perusahaan yang berlokasi di Tegal, Jawa Tengah, itu akan mengolahnya menjadi batako dan pot-pot bunga.

Rumah seluas 2.500 meter persegi di atas lahan 7.000 meter persegi itu dikelilingi tumpukan besi tua, kayu, karet, dan ratusan karung limbah. Juga truk-truk dan beberapa mobil pikap yang lalu-lalang menaikturunkan aneka limbah.

Rumah bak istana itu bukan satu-satunya milik Rifai. Di sisi jalan I Gusti Ngurah Rai, tak jauh dari rumahnya, ia masih punya satu rumah yang dijadikan showroom mobil. Juga ada satu rumah besar di daerah Buaran, Jakarta Timur.

Tapi lelaki bertubuh tambun itu terlihat tidak nyaman saat diajak bicara soal aset-aset pribadinya. Apalagi ketika ia diminta berpose di dekat Jeep Rubicon dan Toyota Yaris yang terparkir di belakang rumah. “Aduh… janganlah, itu riya. Malu saya, kreditnya juga belum lunas,” ujarnya merendah. (MADURAKU.COM/DETIK.COM)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s