Pergolakan yang Tak Pernah Padam

Buku tokoh muda pemikir Islam asal Sampang, Madura, Jawa Timur berjudul Pergolakan Pemikiran Islam Islam.

Oleh: Ulil Abshar Abdalla*
Buku kecil berwarna hijau dengan gambar kepalan tangan yang gempal di sampulnya itu saya kenal pertama kali sewaktu masih belajar di pesantren pada awal 1980-an. Saya melihat sejumlah santri dengan sembunyi-sembunyi membaca buku itu. Agar tak ketahuan, mereka menaruh buku itu di sela-sela kitab berbahasa Arab. Dari luar, mereka tampak seolah-olah membaca kitab, padahal sedang menikmati sebuah buku yang dianggap “berbahaya” oleh banyak tokoh Islam.

Buku Pergolakan Pemikiran Islam yang berisi catatan harian Ahmad Wahib itu sudah menimbulkan “pergolakan” yang hebat di kalangan Islam sejak diterbitkan oleh LP3ES untuk pertama kali pada 1981. Kegemparan yang ditimbulkan buku ini melanjutkan heboh serupa yang disulut oleh pidato Nurcholish Madjid pada Januari 1970. Baik Wahib maupun Cak Nur lahir dari rahim yang sama, yakni Himpunan Mahasiswa Islam, organisasi mahasiswa Islam terbesar saat itu.

Gagasan Wahib dan Cak Nur memang menimbulkan kegemparan karena menabrak sejumlah doktrin yang sudah dianggap selesai. Sebaliknya, di mata anak-anak muda seperti mereka, doktrin-doktrin itu justru dipandang sebagai kebuntuan. Keprihatinan Wahib dan Cak Nur sebetulnya sederhana: kenapa Islam berdiri di luar perubahan-perubahan sosial yang terjadi, tanpa bisa memberikan arahan? Inti keprihatinannya satu: kontekstualisasi-bagaimana Islam nyambung dan relevan dengan perubahan-perubahan yang terus terjadi, bukan agama antik yang hanya peduli pada siksa kubur, neraka, surga, dan bidadari.

Jika kita lihat sosiologi umat Islam pada 1970-an, akan terlihat bahwa pergolakan dalam tubuh umat Islam itu adalah sebentuk reaksi terhadap perubahan politik dan sosial yang begitu cepat saat itu. Pemerintah Orde Baru sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan dan modernisasi. Kalau kita telaah perdebatan Islam pada periode itu, tema modernisasi (juga westernisasi) menjadi topik utama yang selalu dipercakapkan dengan sengit oleh para aktivis muslim. Yang menarik, tema ini menjadi perdebatan keras terutama di kalangan intelektual Islam “modernis” yang mewarisi tradisi Partai Masyumi. Kalau kita baca catatan harian Wahib, akan kelihatan betapa sejumlah anak muda seperti dirinya dan Cak Nur kecewa terhadap kalangan “sepuh” di Masyumi yang bersikap terlalu “ideologis” dalam memandang perubahan-perubahan yang terjadi.

Tak aneh jika salah satu tema utama yang menjadi keprihatinan anak-anak muda seperti Wahib adalah pertanyaan berikut ini: apakah Islam sebuah ideologi atau bukan? Jawaban Wahib jelas: mereka menampik Islam sebagai ideologi. Sikap ini sebetulnya mudah dipahami. Dalam pandangan Wahib, ideologi cenderung tertutup. Ini tak sesuai dengan visinya tentang Islam sebagai agama yang terus bergerak sesuai dengan perkembangan sejarah.

Gagasan Wahib ini sejajar dengan pandangan para pemikir Islam liberal di segala penjuru dunia hingga sekarang: mereka menolak pandangan kaum revivalis, seperti Maududi, Qutb, dan Khomeini, yang ingin menjadikan Islam sebagai ideologi yang dapat menandingi ideologi sekuler seperti kapitalisme dan komunisme.

Bagi Wahib, Islam bukanlah ideologi, melainkan agama yang selalu membuka diri terhadap segala bentuk interpretasi. Jika Islam menjadi ideologi, ia akan cenderung melakukan fiksasi, yakni mengunci diri sebagai formula-jawaban (al-hall) yang dianggap valid dan relevan untuk selama-lamanya, seraya menolak kemungkinan tafsir baru.

Saya menduga catatan harian Ahmad Wahib telah menjadi bahan bacaan bagi puluhan ribu anak muda Islam di seluruh Indonesia. Bersama catatan harian lain milik Soe Hok Gie, yang juga diterbitkan LP3ES, catatan harian Wahib merupakan semacam “katekismus” atau bacaan wajib bagi sejumlah aktivis Islam pada 1980-an dan 1990-an.

Buku itu memang tidak mengetengahkan pemikiran yang sudah matang. Apa yang tertulis di sana adalah lintasan ide yang-meminjam istilah yang populer pada 1960-an-“belum sudah”, gagasan yang masih dalam proses. Dulu banyak kalangan, termasuk Profesor H.M. Rasjidi (pengkritik paling gigih gerakan pembaruan Cak Nur), yang menyesalkan kenapa buku yang berisi gagasan yang belum selesai itu diterbitkan dan diketengahkan kepada umat.

Menurut saya, daya pikat buku Wahib justru terletak pada kebelumsudahannya itu. Ia merangsang anak-anak muda untuk mempertanyakan hal-hal yang telah dianggap selesai dalam Islam, bukan buru-buru mencari jawaban. Ia istimewa justru karena mengajak generasi baru untuk menjelajah, bukan mengulang formula jawaban yang sudah tersedia di kalangan umat selama ini.

Magnet buku Wahib sekarang mungkin sudah mulai pudar. Anak-anak muda yang tak puas dengan interpretasi kaum ortodoks Islam bisa menimba ilham dari pemikir Islam kritis dari berbagai penjuru dunia. Mereka bisa membaca Mohamed Arkoun, Hassan Hanafi, Abdullahi Ahmed an-Na’im, Khaled Abou el-Fadl, Muhammed Abed al-Jabiri, dan sebagainya, selain para pemikir muslim Indonesia sendiri yang datang setelah Wahib.

Tapi kita tak boleh melupakan jejak panjang yang telah ditinggalkan catatan harian Wahib ini di kalangan ribuan aktivis muslim di Indonesia. Meski buku Wahib sudah tak lagi dibaca luas sekarang, kegelisahan dan keberaniannya untuk mempersoalkan doktrin-doktrin Islam yang telah mapan terus diwarisi oleh generasi muda Islam hingga saat ini. Pergolakan Wahib tak pernah padam.

Sejak dulu, kalangan ortodoks Islam selalu ingin menyingkirkan jauh-jauh keragu-raguan seperti tecermin dalam pikiran-pikiran Wahib itu-keraguan yang di mata mereka hanya akan mengganggu kemurnian akidah umat. Tapi usaha itu tampaknya tak akan pernah bisa berhasil. Pergolakan demi pergolakan terus muncul dalam tubuh umat Islam-sesuatu yang, bagi saya, menandakan gejala yang positif.

Pergolakan itu menandakan bahwa umat Islam terus-menerus mencari formula baru yang tepat untuk menjawab keadaan yang terus berubah. Islam memang agama “sempurna”, seperti sering dikatakan oleh para juru dakwah. Tapi kesempurnaan Islam bukan barang yang telah jadi, melainkan sebaliknya: sebuah proses yang melibatkan keberanian untuk terus menafsir ajaran-ajaran yang sudah telanjur dianggap mapan.

Kita pantas mengenang buku Wahib ini sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah perdebatan ide-ide Islam di Indonesia. Bukan hanya itu. Buku ini juga layak kita kenang dalam proses “membangsa” (nation building) secara keseluruhan. Sudah tentu, proses membangsa terjadi tidak saja melalui pidato yang gemuruh dari Bung Karno atau indoktrinasi Pancasila seperti pernah dilakukan Orde Baru dulu. Proses membangsa juga bisa terjadi melalui sebuah catatan harian seperti ditulis oleh Wahib itu.

*Ulil Abshar Abdalla, Mahasiswa philosophiae doctor kajian Islam di Universitas Harvard dan peneliti di Freedom Institute, Jakarta. Tulisan ini pernah dimuat di majalah tempo. (MADURAKU.COM-1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s