Kenapa FPI, bukan HMI?

hmi-madurakuOleh Feri Yanto*
Akhir-akhir ini banyak pihak yang menyuarakan dan mendesak pembubaran salah satu ormas di Indonesia, tidak lain adalah Front Pembela Islam atau disingkat dengan FPI, dimana ormas ini adalah organisasi yang berazaskan Islam dan itu jelas terlihat dari satu kata di ujung namanya.

Diketahui organisasi yang dipimpin oleh Habib Rizieq ini kerap melakukan aksi protes terhadap pemerintah yang dianggapnya tidak sejalan dengan pemikiran dan ideologi organisasi tersebut, terakhir organisasi ini berhasil menggerakkan massa berjumlah jutaan orang dengan nama aksi Bela Islam atas kasus dugaan penistaan Agama oleh Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama pada tanggal 2 Desember 2016 atau akrab disebut dengan aksi 212.

Selain itu, FPI sebagai ormas Islam memiliki ideologi politik yang jelas, yaitu secara jelas menyuarakan untuk memilih pemimpin muslim dan mengajak masyarakat untuk tidak memilih pemimpin non muslim, hal inilah yang kemudian banyak pihak menuding bahwa FPI merupakan organisasi yang tidak demokratis, organisasi yang tidak menghormati kebhinekaan, dan rasis, sehingga banyak pihak kemudian meminta FPI dibubarkan, hingga pernah beredar isu presiden akan membubarkan FPI pada 27 November 2016, namun kenyataannya belum hingga saat ini, tapi upaya-upaya terus dilakukan musuhnya agar FPI dibubarkan.

Mengapa upaya pembubaran tidak terjadi pada Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat ini? padahal jika kita melihat kebelakang bahwa HMI juga pernah akan dibubarkan karena sikap HMI yang selalu bersebrangan dengan pemerintah dan lebih berpihak kepada kepentingan ummat, sebagai salah satu bentuk keberpihakan HMI pada ummat adalah rekomendasi konferensi Akbar HMI di Medan dalam menghadapi pemilihan umum pertama di Indonesia pada tahun 1955.

Adapun rekomendasi yang dikeluarkan konferensi akbar HMI waktu itu yaitu: (1) Menyerukan kepada khalayak ramai untuk memilih partai islam;(2) Menyerukan kepada partai-partai islam untuk tidak saling menyerang; (3) Anggota HMI diwajibkan aktif memilih salah satu partai islam yang disenanginya.

Akibat sikap yang diambil pada kongres HMI Medan itu kemudian muncul usaha pembubaran HMI terlihat dengan beberapa kejadian seperti peristiwa Utrech (pelarangan HMI berdiri di FH UNIBRAW) dan pidato Aidit di hari lahirnya PKI yang menyatakan dengan tegas ingin membubarkan HMI, kemesraan kaum sosialis komunis dengan presiden Soekarno pada saat itu membuat HMI nyaris saja dibubarkan walaupun akhirnya HMI memenangkannya dan tetap masih berdiri hingga saat ini.

Lalu mengapa HMI saat ini tidak lagi perlu dibubarkan, karena HMI saat ini tidak lagi berjuang pada ideologi politiknya, meskipun HMI bukan organisasi politik tapi HMI tidak dapat dilepaskan dengan aktivitas politik sebagaimana pendiri dan pelopor HMI, ayahanda Lafran Pane menyebutkan bahwa bidang politik tidak akan mungkin dipisahkan dari HMI, sebab itu sudah merupakan watak asli HMI semenjak lahir.

Dilihat dari sejarahnya, gerakan HMI terbentuk dalam dua faktor yang pertama faktor internal yaitu model gerakan yang dibangun berdasarkan karakter pemikiran HMI yaitu ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang difahami oleh HMI dan watak HMI yang sudah terbentuk sejak lahir, kedua faktor eksternal HMI, dimana HMI merupakan organisasi berbasis Islam dan tentu tidak terlepas dari kelompok-kelompok masyarakat Islam dan menyatakan dirinya sebagai anak ummat akan terus berjuang bersama-sama ummat.

Namun, saat ini HMI tidak lagi konsisten pada sikap politiknya, bukan hanya itu HMI juga sudah tidak lagi kompak, hal ini merupakan kegagalan HMI dalam mentransformasikan nilai-nilai perjuangannya kepada kader HMI diseluruh cabang dan komisariat, misalnya saja HMI cabang Makassar Timur secara terang-terangan menolak ikut bersama ummat pada aksi bela Islam tanggal 4 November 2016 padahal Pengurus Besar HMI sudah mengeluarkan instruksi untuk turut serta pada aksi tersebut.

Bukan hanya cabang Makassar Timur saja, pada parade “Kita Indonesia” yang dilakukan pada 4 Desember 2016, merupakan aksi tandingan dari Bela Islam jilid 3 pada 2 Desember 2016 yang dikenal dengan aksi 212, ternyata juga di ikuti oleh kader HMI, tidak tanggung-tanggung dengan terang-terangan membawa atribut HMI dan bendera raksasa, bahkan media online Tempo.co memberitakan sebanyak 700 kader HMI ikut dalam parade yang kontradiktif terhadap sikap HMI.

Meskipun kemudian PB HMI melakukan klarifikasi terhadap keterlibatan HMI dalam parade tersebut tapi nyatanya memang benar bahwa ada kader HMI yang terlibat yang kemudian PB HMI memberikan sanksi kepada oknum yang terlibat dalam aksi tersebut melalui Rapat Harian PB HMI, Kamis, 15 Desember 2016 dengan memutuskan; 1. Roby Sjahrir (diberhentikan sebagai Formatur Badko HMI Jabodetabeka-Banten dan Skorsing 2 Tahun) 2. Rahmat Moni (Skorsing 1 Tahun) 3. Faisal (Skorsing 1 Tahun) 4. Mubadin (Skorsing 1 Tahun) 5. Saleh Suakil/Aleka (Skorsing 1 Tahun).

Dan ternyata, dengan memberikan sanksi pada kader HMI yang terlibat dalam aksi yang kontradiktif terhadap sikap PB HMI tersebut menimbulkan polemik baru dalam tubuh PB HMI, sebab ada pengurus di PB HMI yang membela oknum-oknum yang terlibat pada aksi tersebut, diantaranya Arifin, Ketua Bidang Lingkungan Hidup PB HMI, Muhammad Adil, Ketua Bidang Sosial Politik PB HMI, Riyanto Ismail Ketua Bidang Kewirausahaan PB HMI, dan menuding ketua umum PB HMI telah melakukan tindakan yang sepihak hal ini di sampaikan ya dalam siaran pers yang dimuat oleh media online TimLink.

Tidak hanya sampai disitu PB HMI pun kemudian semakin gaduh pasalnya Sekretaris Jenderal (Sekjend) PB HMI, Ami Jaya dan pengurus PB HMI menggelar rapat harian tanpa diketahui oleh ketua umum PB HMI pada hari Rabu 28 Desember 2016 dan mengeluarkan surat somasi dengan salah satu pointnya adalah sebab dijatuhkannya sanksi terhadap oknum kader HMI yang terlibat pada aksi parade “Kita Indonesia”.

Disini kita melihat bahwa HMI memang sudah tidak perlu dibubarkan dan HMI akan bubar dengan sendirinya, paling tidak HMI bukan lagi sebagai organisasi yang mampu bertarung secara ideologis, justru HMI adalah organisasi yang menjadi korban dalam pertarungan-pertarungan ideologis, hal ini disebabkan ketidak mampuan HMI dalam melakukan konsolidasi pemikiran, dan mungkin HMI sudah kehilangan watak aslinya sebagaimana yang disebutkan oleh ayahanda Lafran Pane sebagai pendiri HMI.

Inilah kemudian kenapa bukan HMI yang akan dibubarkan, sebab HMI bukan lagi sebagai organisasi yang memiliki identitas dan ciri khas pemikiran mengenai Ke-Islaman dan ke-Indonesiaannya, tapi kini HMI dihinggapi oleh kader-kader yang pragmatis dan oportunis, yang mungkin akan terus berkompromi dengan penguasa, Wallahu’alam.

*Penulis adalah Ketua Umum HMI Cabang Takengon

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s