Keindahan Tersembunyi di “Pulau Garam” Yang Gersang

Air Terjun Toroan salah satu objek wisata alam yang ada di Kabupaten Sampang, Madura.

Air Terjun Toroan salah satu objek wisata alam yang ada di Kabupaten Sampang, Madura.

Pulau Madura dikenal sebagai pulau yang gersang, karena di pulau berpenduduk sekitar 3,9 ribu orang ini, kebanyakan terdiri dari tanah berbatu dan perbukitan.

Luas lahan pertanian, kebanyakan jagung, ketela pohon, sedang areal sawah lebih sedikit. Saat kemarau, desa-desa yang di Pulau Garam ini juga banyak yang mengalami kekeringan.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di empat kabupaten di Madura menyebutkan, sekitar 400-an desa rawan kekeringan.

Di Kabupaten Pamekasan saja terdata sebanyak 146 desa yang terdata rawan kekeringan dan kekurangan air bersih saat kemarau, belum termasuk desa-desa lain di tiga kabupaten di Madura, yakni Kabupaten Sumenep, Bangkalan dan Kabupaten Sampang.

Tak heran jika setiap musim kemarau, keluhan tentang kekurangan air bersih dan banyaknya tanaman yang gagal panen, selalu menghiasi pemberitaan media, baik lokal Madura maupun media dalam skala nasional.

Kondisi kekeringan di Pulau Madura ini juga diperparah dengan praktik tidak bertanggung jawab sebagian masyarakat, yakni melakukan penebangan hutan, tanpa disertai peremajaan penanaman pohon.

Sehingga, jika musim hujan tiba, akan terjadi banjir secara besar-besaran.

Kabupaten Sampang merupakan salah satu kabupaten di Madura yang sering terjadi banjir. Hampir setiap turun hujan dengan lebat, kota Sampang selalu terendam banjir.

Sepanjang 2016 ini saja, tercatat sebanyak 15 kali banjir terjadi di wilayah Kabupaten Sampang, baik di perkotaan ataupun di pinggiran Kota Sampang.

Wakil Bupati Pamekasan Fadilah Budiono dalam sebuah kesempatan jumpa pers dengan wartawan menyatakan, Kota Sampang terletak lebih rendah dari permukaan pantai, sehingga jika terjadi hujan lebat dan banjir, maka air sungai yang menuju muara akan meluap.

Namun, itu bukan faktor utama penyebab terjadinya banjir. Faktor kesadaran hidup sehat, serta kurangnya kepedulian masyarakat juga menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir. Semisal, membuang sampah secara sembarangan ke sungai, dan melakukan penebangan pohon tanpa adanya upaya melakukan peremajaan.

Akibatnya, banjir terus mengancam saat musim hujan dan kekeringan akan melanda saat kemarau.

Kondisi bahwa Madura kering saat kemarau dan selalu banjir saat musim hujan, seolah tak terbantahkan, karena hal itu selalu menghiasa pemberitaan media.

Namun, dibalik itu semua, Madura juga memiliki sejumlah tempat wisata yang indah dan berpotensi menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Pulau Madura.

Objek wisata di Pulau Madura ini, tidak hanya di satu kabupaten saja, akan tetapi menyebar di semua kabupaten, mulai dari Kabupaten Bangkalan, Sampang, Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep.

Objek Wisata Madura

Dari empat kabupaten yang ada di Pulau Madura, terdata sebanyak 44 objek wisata, meliputi objek wisata alam seperti pantai dan wisata religi. Perinciannya di Bangkalan sebanyak 12 objek wisata, sampang sembilan objek wisata, Pamekasan 10 dan di Kabupaten Sumenep sebanyak 13 objek wisata.

Ke-12 objek wisata yang ada di Bangkalan itu meliputi objek wisata batik, Bukit Geger, Gunung Jeddih, Air Mata Ebu, Makam Sultan Abdul Kadirun, Makam Muhammad Syaikhona Kholil, Mercusuar, Museum Cakraningrat, Pantai Rongkang, Pantai Sambilangan, Pantai Siring Kemuning dan Pelabuhan Kamal.

Di Sampang meliputi objek Sumber Otok, Pantai Camplong, Gua Lebar, Goa Macan, Goa Kelelawar, Waduk Klampis, Hutan Nepa Kera, Air Terjun Toroan dan Waduk Nipah.

Di Pamekasan terdiri dari objek wisata Api Tak Kunjung Padam, Air Terjun Durbugan, Pantai Jumiang, Rawa Mangunan, Pantai Talang Siring, Vihara Avalokitesvara, Bukit Waru, Sumur Akik dan Makam Batuampar dan Bukit Brukoh)

Sedangkan di Kabupaten Sumenep meliputi Pulau Gili Labak, Pulau Giliyang, Gili Genting, Pulau Sapeken, Pantai Lombang, Pantai Ambuten, Bukit Tinggi Daramista, Bukit Kapur Kombang, Kraton Sumenep, Pantai Slopeng, Makam Raja Sumenep Asta Tinggi, Goa Payudan, serta Makan Sayid Yusuf di Talango.

Diantara 44 objek wisata yang ada di Pulau Madura ini, enam diantaranya dijadikan tergolong sebagai tempat objek wisata menarik dan telah diprogramkan pemkab setempat untuk menjadi destinasi wisata di Pulau Madura, yakni Pemandia Gua Pote di Bangkalan, Hutan Nepa dan Air Terjun Toroan di Kabupaten Sampang, serta Vihara Avalokitesvara dan Api Tak Kunjung Padam di Pamekasan.

Di Kabupaten Sumenep, objek wisata yang dirahapkan bisa menarik wisatawan ialah Pulau Gili Labak dan Gili Yang, serta Pantai Lombang.

Diantara 44 objek wisata yang ada di Pulau Garam ini, Gili Labak merupakan objek wisata paling populer dan sejak 2016 ini sudah banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke pulau itu.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Pembangunan Wilayah (Bakorwil) IV Pamekasan Azhar, pengelolaan dan promusi objek wisata di Madura perlu dilakukan secara intergratif, karena di masing-masing kabupaten memiliki potensi berbeda.

“Di Sumenep itu, kuat potensi wisata alamnya, termasuk Sampang dan Bangkalan, tapi Pamekasan kuat di potensi wisata budaya,” katanya.

Jika promosi dan pengelolaan objek wisata dilakukan secara terintegratif, ia yakin pengembangan objek wisata Madura akan maju.

“Madura ini dikenal sebagai pulau kering, karena promosi tentang keberadaan objek wisata tidak kuat. Padahal dibalik image sebagai pulau yang kering ini, terkandung keindahan tersembunyi yang belum banyak diketahui orang,” katanya, menjelaskan.

Mantan Sekda Pemkab Sampang ini lebih lanjut menjelaskan, pihaknya telah mengkoordinasikan tentang pengembangan objek wisata yang ada di Pulau Madura itu dengan Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS).

Ia menjelaskan, saat ini, pihak BPWS telah melakukan berbagai upaya untuk membantu memajukan objek wisata yang ada di Madura, termasuk mengumpulkan komunitas blogger se-Indonesia untuk membantu mempromosikan wisata Madura kepada masyarakat dunia.

Selain itu, pemkab di masing-masing kabupaten juga dipandang perlu untuk menggelar kegiatan budaya sebagai tujuan wisata, semisal karapan sapi dan kontes sapi sonok dalam bulan-bulan tertentu, semisal diagendakan dalam bulan kunjungan wisata. (Tulisan ini dimuat di AntaraJatim.Com 18 Desember 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s