Ketika Kecurangan Berbalut Agama

UNJUK-RASA“Tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi”. Kira-kira sepertilah rumus politik yang berlaku di negeri ini. Nampaknya para politikus belum ada yang menyangkal rumus ini. Entah itu politikus dari partai yang mengaku berazaskan Islam, ataupun yang berhaluan nasionalis.

Entah karena dianggap sebagai kesepakatan atau memang merupakan kebenaran dalam dunia politik, maka kepentingan yang abadi inilah yang kemudian menghalalkan segala cara, oleh siapapun saja. Sehingga, untuk mencapai kepentingan yang abadi itu, maka segala carapun dilakukan.

Isu miring atau kampanye gelap, serta berbagai trik yang bisa meningkatkan nilai tawar atau kemenangan seolah menjadi keharusan untuk dilakukan, kendatipun harus menyimpang dari nilai-nilai agama. Melakukan kecurangan seperti mengurangi suara pesaing untuk sebuah kemenangan, seolah menjadi keniscayaan, atau bisa jadi sebagai sebuah keharusan.

Partai yang konon berazaskan Islam, ataupun tokoh berjubah putih yang biasa disebut Kiai nampaknya tak bisa lepas dari praktik yang sebenarnya melebihi batas moral dan etika normatif agama ketika politik sudah menjadi landasan gerak, dalam berupaya meraih kemenangan.

Kasus dugaan kecurangan di 3 TPS di Desa Potoan Laok, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Madura, adalah fakta otentik, betapa kepentingan abadi merupakan segalanya. Alasan wibaya Kiai dan lembaga pesantren menjadi pemicu gerakan massa, untuk menutupi agar praktik kecurangan tidak terbongkar.

Anak-anak usia sekolah yang belum tahu tentang politik pun digerakkan. Mereka diikutsertakan berunjuk rasa menolak, penghitungan suara ulang di 3 TPS di Desa Potoan Laok, Kecamatan Palengaan, karena menurutnya dugaan kecurangan itu tidak benar, dan hanya mendiskreditkan lembaga pesantren.

Ketika fakta kecurangan terungkap, tentunya akan lebih aib lagi, karena gerakan yang dilakukan, bukan semata-mata untuk kebenaran, akan tetapi, hanya untuk mempertahannya upaya menyimpang, yang sebenarnya juga terlayang dalam permainan politik yang mengagungkan kepentingan abadi ini.

Saya tidak berpretensi untuk mengklaim politik sebenarnya kotor. Sebab politik sebenarnya tidak lebih dari sebuah cara untuk meraih kekuasaan dengan tujuan agar bisa mengatur secara bebas tatanan sosial melalui kebijakan politik.

Keberadaan politikus yang mengerti agama, tentunya diharapkan mampu mewarnai dinamika politik di negeri ini yang mengindahkan nilai-nilai moral, bermain secara fair, bukan malah sebaliknya, yakni menjadikan tabir kesucian untuk berbuat kecurangan.

Upaya meraih kekuasaan dengan cara elegan, sebenarnya merupakan dambaan semua pihak. Demokrasi mengandaikan keberlangsungan sistem politik yang sehat, bermain sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati bersama, dan tetap menjunjung nilai-nilai moral agama bukan, menjadikan agama sebagai tameng untuk melakukan kecurangan.

Pamekasan, 25 April 2014

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.