Menyemai Benih Perdamaian dari Tragedi Sampang (2)

Tragedi kemanusiaan Sampang pada 26 Agustus 2012 itu bermula ketika beberapa orangtua pengikut ajaran Syiah hendak mengantar sekitar 20 anak Syiah menuntut ilmu di Yayasan Pondok Pesantren Islam (YAPI), Bangil, Pasuruan. 

Pada sekitar pukul 10.00 WIB, sebelum keluar dari gerbang Desa Karang Gayam, rombongan pengantar dihadang oleh sekitar 30 orang bersepeda motor. Massa melengkapi dirinya dengan celurit, parang, serta benda tajam lainnya.

Anak-anak Syiah yang sudah naik angkutan umum disuruh turun, sedangkan yang mengendarai kendaraan dipaksa pulang ke rumah mereka masing-masing. Sebagaian warga Syiah yang berupaya melawan aksi itu justru membuat massa makin beringas sehingga bentrokan tidak terhindarkan.

Satu persatu rumah-rumah pengikut Islam Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, Sampang dibakar. 

Aksi pembakaran rumah warga Syiah oleh kelompok penyerang ini berlangsung sejak sekitar pukul 11.00 WIB siang, hingga sore sekitar 15.00 WIB masih berlangsung.

Aksi penyerangan dan pembakaran rumah warga Syiah oleh kelompok penyerang itu sendiri diduga kuat memang telah terencana. 

Dugaan itu timbul, menyusul adanya temuan bahwa di setiap rumah yang dibakar terdapat tanda plastik berwarna merah di sekitar pekarangan rumah mereka. Baik di Desa Karang Garam, Kecamatan Omben, maupun di Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang.

“Ada juga beberapa rumah warga Syiah yang belum sempat dibakar disitu juga kita temukan adanya plastik merah di sekitar pekarangan rumah itu,” kata koordinator relawan kemanusiaan dari Komite Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya, Fatkhul Khoir.

Muhaimin (18), salah seorang warga yang rumahnya ludes dibakar massa mengatakan, kini dirinya hanya bisa pasrah atas semua musibah yang menimpa dirinya dan berharap pemerintah mau peduli terhadap para korban penyerangan tersebut.

“Kelompok penyerang itu rupanya menginginkan agar warga Syiah tidak lagi tinggal di Sampang. Makanya semua rumah-rumah kami dibakar habis oleh mereka,” kata Muhaimin.

Warga Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang ini menuturkan, dirinya berhasil selamat dari amukan massa karena bersembunyi di semak belukar sekitar 500 meter dari rumahnya yang dibakar massa itu.

Bersama adiknya Mustofa dan ibunya Jamik, Muhaimin menyelamatkan diri setelah melihat sekelompok massa mendekat ke rumahnya dengan membawa berbagai peralatan senjata tajam dan bensin.

Sementara, ayahnya Muhammad Husin alias Pak Hamamah yang berupaya bertahan di rumahnya, kini telah meninggal dunia akibat bacokan senjata tajam kelompok penyerang.

Aksi amarkis massa penyerangan tidak hanya sampai disitu saja. Para penyerang juga berupaya melakukan pembunuhan terhadap pimpinan dan pengikut setia aliran Syiah ini.

“Untungnya saya disembunyikan oleh jamaah saya di rumah warga Sunni di Desa Bluuran dan kemudian diantar ke menemui petugas,” kata ketua jamaah Syiah Iklil Almilal.

Petugas kepolisian dari jajaran Polres Sampang dibantu TNI dari Kodim 0828 Sampang terpaksa melakukan evakuasi terhadap pengikut aliran Islam Syiah ke tempat yang lebih aman di gedung olahraga (GOR) Wijaya Kusuma Sampang.

Prihatin
Tragedi Sampang menuai simpati berbagai pirbagai pihak. Mereka prihatin atas peristiwa yang telah terjadi di Desa Karang Gayam dan Desa Bluuran itu.

Sehari setelah kejadian, berbagai jenis bantuan dari berbagai organisasi sosial dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) terus berdatangan.

Salah satunya seperti yang dilakukan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Surabaya, Rabu (29/8), atau tiga hari setelah peristiwa berdarah itu terjadi. Organisasi keagamaan Sunni itu menyalurkan bantuan kebutuhan wanita.

Selain kebutuhan wanita, ormas keagamaan ini juga menyerahkan bantuan makanan berupa mi instan, makanan ringan, air mineral, susu dan uang sebesar Rp1 juta.

“Bantuan ini meruapakan hasil penggalangan yang kami lakukan di lapangan bersama beberapa ormas lain di Surabaya,” kata Wakil Ketua PC NU Surabaya, Solahudin di Sampang.

Solahudin datang ke lokasi pengungsian bersama LSM “Center for Marginalized Communities Studies” (CMARs).

Aktivis CMARs Aries mengatakan, bantuan berupa pembalut dan pakaian dan celana dalam wanita, serta popok untuk balita itu, berdasarkan pendataan kebutuhan yang dilakukan oleh tim relawan.

“Tim yang ada di sini kan selalu meng ‘update’ informasi kepada kami. Makanya kami lebih banyak membawa pembalut wanita ini,” ucap Aries, menjelaskan.

Bantuan tidak hanya dari kalangan umat Islam saja, akan tetapi juga dari kalangan non-Muslim.

Di Pamekasan, sejumlah organisasi mahasiswa ektra kampus melakukan penggalangan dana untuk membantu korban kerusuhan dari kelompok Islam Syiah di Sampang.

Kelompok organisasi mahasiswa yang melakukan penggalangan dana itu adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pamekasan.

“Penggalangan kami pusatkan di area Monumen Arek Lancor dan akan berlangsung selama tiga hari ke depan,” kata Ketua Umum HMI Pamekasan, Mansur, kepada ANTARA, Rabu (29/8).

Aksi penggalangan dana oleh dua organisasi mahasiswa Islam di Pamekasan ini sempat dipertanyakan sebanyak enam orang utusan salah satu Kiai pengasuh pondok pesantren karena dianggap aksi mereka membela kelompok Islam beralisan sesat.

“Mereka itu bilang kepada kami bahwa Syiah tidak pantas dibela, karena tidak sepaham dengan Sunni,” kata Ketua PMII Cabang Pamekasan, Faridi.

Akan tetapi, setelah dijelaskan tentang tujuan mereka melakukan penggalangan, yakni demi kemanusiaan, keenam orang santri yang sempat mendatangi mahasiswa itu akhirnya bisa memakluminya.

Penggalangan dana bagi warga Syiah korban penyerangan kelompok massa Sunni itu berlangsung selama tiga hari di sejumlah lokasi titik keramaian di dalam kota Pamekasan.

Penggalangan dana juga dilakukan puluhan duta wisata Kacong Jebbing di kabupaten Bangkalan di sejumlah di berbagai perempatan jalan raya di kota itu. 

Para pemuda dan pemudi duta wisata itu membawa kardus bertuliskan “Peduli Sampang”. Mereka meminta sumbangan uang kepada para pengemudi kendaraan bermotor yang melintas di jalan raya.

Dengan berpakaian duta wisata, para pemuda dan pemudi ini mendekati para pengendara sepada motor dan mobil saat lampu merah menyala.

“Aksi yang kami lakukan ini sebagai bentuk rasa solidaritas, antarsesama manusia yang menjadi korban kerusuhan di Sampang,” kata koordinator kegiatan itu, Maulana Yusuf.

Penggalangan dana yang dilakukan para duta wisata Bangkalan itu berlangsung selama dua hari, yakni mulai Jumat (31/9) hingga Minggu (2/9).

Maulana menjelaskan, dalam aksi penggalangan ini pihaknya tidak hanya menerima sumbangan berupa dana saja, akan tetapi sumbangan bisa juga berupa baju bekas yang layak pakai serta kebutuhan lain bagi korban konflik Sampang yang ada di penampungan.

Dalam sehari saja, para duta wisata di Kabupaten Bangkalan tersebut, mampu mengumpulkan dana sebanyak Rp1.688.700.

Bantuan kemanusiaan pada warga Syiah korban penyerangan juga dilakukan oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) asal Jawa Timur, Istibsjaroh. Bahkan ia datang langsung ke lokasi pengungsian di gedung olahraga Wijaya Kusuma, Sampang, meninjau dan berdialog secara langsung dengan para pengungsi.

“Kondisi mereka sangat memprihatinkan. Rumah dan harga bendanya sudah hilang dan mereka tentunya sangat menderita,” katanya seuasai berdialog dengan para pengungsi.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, Imam Sanusi, selama 10 hari, yakni sejak tanggal 26 Agustus hingga tanggal 5 September 2012, tercatat sebanyak 45 lembaga telah menyalurkan bantuan kepada korban tragedi kemanusiaan asal Desa Karang Gayam dan Desa Bluuran itu.

Pendidikan
Bantuan kepada warga Syiah korban penyerangan kelompok massa yang kini tinggal di GOR Wijaya Kusuma Sampang itu, tidak hanya berupa uang dan makanan serta kebutuhan bahan pokok lainnya. Akan tetapi ada yang juga berupaya bantuan pendidikan bagi anak-anak Syiah.

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Komite Anak Sampang (KAS). Sehari setelah pengungsi tiba di GOR, lembaga ini langsung memberikan hiburan kepada anak-anak berupa permainan dan mengajari mereka menyanyi.

“Sebab kalau anak-anak ini tidak dihibur, maka mereka akan tetap trauma dan akan selalu mengingat peristiwa menakutkan yang pernah mereka lihat dan mereka alami,” kata Ketua Komite Anak Sampang, Untung Rifaie.

Kondisi anak-anak Syiah korban penyerangan yang tinggal di pengungsian GOR Wijaya Kusuma Sampang ini juga tidak luput dari perhatian Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).

Pada tanggal 4 September 2012, Ketua Komnas PA Seto Mulyadi berkunjung ke lokasi pengungsian dan melihat secara langsung kondisi anak-anak Syiah asal Desa Karang Gayam dan Desa Bluuran itu. 

Dalam kesempatan itu Seto Mulyadi mengatakan, sebagian anak-anak korban penyerangan kelompok massa di Sampang yang kini tinggal di pengungsian, masih mengalami trauma.

“Sebagian di antara mereka saya lihat masih trauma. Tapi ada juga yang sudah tidak trauma,” kata Seto Muyadi.

Kak Seto, sapaan karib Ketua Komnas PA ini lebih lanjut menjelaskan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa trauma anak-anak yang kini tinggal di pengungsian tersebut.

Salah satunya menurut dia, dengan memperbanyak bernyanyi dan mendengarkan dogeng-dongeng ispiratif.

“Cara seperti itu sangat efektif untuk menghilangkan trauma bagi anak-anak,” ucap Kak Seto, menjelaskan.

Kak Seto datang ke tempat pengungsian di gedung olahraga (GOR) Wijaya Kusuma, Sampang, sekitar pukul 14.00 WIB, Selasa (4/9).

Di sana, pria kelahiran Klaten ini meninjau semua fasilitas permainan anak-anak di lokasi pengungsian.

Ayah empat orang anak itu juga menyempatkan berdialog dengan sejumlah guru sukarelawan yang selama ini memberikan hiburan dan permainan bagi anak-anak korban Sampang.

Menurut Kak Seto, sebenarnya upaya untuk memulihkan trauma anak-anak korban penyerangan yang kini tinggal di lokasi pengungsian itu telah dilakukan sejumlah aktivis LSM yang bergerak di bidang perlindungan anak.

“Upaya untuk memulihkan rasa trauma anak sebenarnya telah dilakukan. Oleh karenanya, kami tentu terus mendorong agar terus dilakukan, sehingga rasa trauma mereka hilang dan mereka kembali ceria, bisa melupakan kejadian yang mereka alami,” tuturnya, menjelaskan. 

Dari sisi kesehatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang, juga menyediakan tim medis khusus kepada para pengungsi kelompok Islam Syiah, korban penyerangan itu.

Kepala Dinas Kesehatan Sampang Firman Pria Abadi, mengatakan, kesehatan bagi pengungsi korban penyerangan harus mendapatkan perhatian serius pemerintah, mengingat, pola hidup di pengungsian sangat rentan terserang berbagai jenis penyakit. 

Dua hari setelah tinggal di lokasi pengungsian, sebagian pengungsi, memang terserang penyakit, karena pola hidup mereka yang kurang memenuhi standar kesehatan. 

Dinkes Sampang ketika itu mencatat, sebanyak 38 orang warga Syiah asal Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, terserang penyakit diare.

“Selain diare, mereka juga menderita gangguan pernafasan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sampang, Firman Pria Abadi.

Hingga tanggal 6 September 2012, tercatat sebanyak 251 pengungsi dari total 282 pengungsi warga Syiah yang tinggal di GOR Wijaya Kusuma Sampang, terserang penyakit. 

“Jenis penyakit yang mereka derita bermacam-macam, seperti penyakit kulit gatal-gatal, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan diare,” kata Firman Pria Abadi, Kamis (6/9) siang.

Ia menjelaskan, ada sebanyak 24 jenis kasus yang diderita para pengungsi Syiah Sampang itu.

Rinciannya meliputi, sebanyak 31 orang menderita luka rawat, batuk pilek 30 orang, herpes 23 orang, penyakit kulit 22 orang dan, ISPA sebanyak 21 orang.

Selanjutnya sebanyak 21 orang menderita diare, mialgia sebanyak 20 orang, cepalgia sebanyak 15 orang, gastritis 10 orang, febris sembilan orang, alergi sebanyak sembilan orang, dan vulnus sebanyak tujuh orang.

“Kalau penderita linu-linu sebanyak lima orang dan infeksi saluran kencing sebanyak empat orang, serta rematik sebanyak empat orang,” terang Firman.

Kasus lain yang juga sempat terdata di pos kesehatan pengungsi ialah mata pada merah sebanyak empat orang, kasus disentri sebanyak tiga orang, sakit gigi sebanyak tiga orang, OPM 3 orang, stomatitis dua orang, trauma lengan dua orang, anemia sebanyak satu orang. (bersambung) (*)

(http://www.antarajatim.com/lihat/berita/94999/menyemai-benih-perdamaian-dari-tragedi-sampang-2)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s