Fenomena Mengemis di Madura

Oleh: Abd Aziz

Pamekasan – Menjelang hari raya Idulfitri, pengemis mulai berdatangan ke Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Mereka datang dari berbagai daerah dan pelosok desa di Pamekasan, bahkan tidak sedikit dari luar kota Pamekasan. Seperti Desa Jaddung, Kecamatan Pragaan, Kebupaten Sumenep.

Kedatangan mereka itu bukan hanya sendirian, tapi berkolompok. Mereka hanya mengandalkan kekompakan yang senasib dan sepenanggungan.

Seolah sudah mengerti tempat-tempat yang harus didatangi, begitu sampai di sekitar monomen Arek Lancor Pamekasan, para pengemis yang umumnya dari kaum perempuan ini langsung memisahkan diri.

Ada yang nongkrong di depan toko pakaian, supermarket, toko elektronik bahkan ada pula di depan ATM dan kantor pos.

“Kalau bulan puasa dan mendekati hari raya lebaran seperti ini, hasilnya lumayan banyak pak,” kata Sumi (58), pengemis asal Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan.

Pengemis yang biasa nongrong di depan toko Kurnia Farma jalan Jokotole ini mengaku, sejak bulan Ramadan ini pendapatannya dari mengemis meningkat. Jika sebelumnya hanya dalam kisaran Rp.5000 dalam sehari, saat ini mencapai Rp.10.000, hingga Rp.15.000 per-hari.

Hal yang sama juga dikaui Marsiha, dari Desa Bukek, Kecamatan Tlanakan. Meski tidak mengaku jumlah uang yang ia peroleh dalam sehari, tapi perempuan berambut putih ini mengaku memang lebih banyak dibanding hari-hari biasanya.

“Lumayan banyak dibanding biasanya. Soalnya banyak berbelanja,” katanya.

Nongkrong di depan toko dan supermarket sebagaimana dilakukan pengemis Sumi dan Marsiha, ternyata hanyalah salah satu cara para penegemis ini untuk mendapat rupiah yang lebih banyak mendekati hari raya Idulfitri.

Tidak sedikit diantara mereka yang langsung datang ke rumah-rumah warga untuk mendapatkan uang lebih dalam menyambut hari raya Idulfitri nanti. Seperti yang diakui Lilik (24) warga Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Pamekasan.

Sejak memasuki hari ke-10 bulan Ramadan, tidak kurang dari lima orang pengemis datang ke rumahnya dengan berbagai jenis kelamin. Baik laki-laki ataupun perempuan.

“Jam 8 pagi itu sudah ada orang yang panggil salam ke rumah. Pokoknya hilir-mudik secara bergantian, sejak bulan Ramadan. Apalagi mendekati lebaran. Itu sudah biasa sejak dulu,” katanya.

Banyaknya para pengemis yang datang ke pusat-pusat perbelanjaan di Pamekasan menjelang hari raya Idulfitri ini, karena mereka menganggap di kota bisa mendapatkan rupiah lebih dibanding tempat-tempat lain dimana bisanya mereka meminta minta. Seperti yang diakui Salimin, pengemis asal Desa Proppo, Pamekasan.

“Biasanya setiap hari saya di pesarean Batuampar di Proppo. Tapi sekarang disana sepi pengunjung. Makanya kami ikut teman-teman kesini,” ujarnya.

Demi Sesuap Nasi
Mengemis sebagaimana dilakukan Sumi, Marsiha dan Salimin, ternyata bukan menjadi cita-citanya. Mereka mengaku, semua itu terpaksa ia lakukan. Selain karena sudah tidak memiliki lahan untuk bertani, usia dan sudah tua tanpa sanak famili menjadi alasan utama mereka berbuat seperti itu.

Sumi, misalnya. Di usianya yang sudah mendekati senja itu, ia hanya hidup sebatang kara di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan. Kondisi ekonomi yang serba kekurangan ditambah lagi anak cucunya dan merantau sejak puluhan tahun lalu dan hingga kini tidak pernah kembali membuat ia nekat menjadi seorang peminta-minta.

Di bawah gubuk berukuran 3×3 meter yang menjadi tempat tidur yang sekaligus dapurnya itu Sumi menjalani sisa hidupnya. Itupun bukan gubuk miliknya, tapi peninggalan suaminya, yang sudah meinggal dunia tujuh tahun lalu.

“Kalau saya memiliki lahan untuk bertani saja, mengapai saya harus mengemis. Ini semua karena terpaksa saya lakukan,” kata sambil tatapannya berkaca-kaca.

Untuk menjadi buruh tani sebagaimana tetangganya, Sumi mengaku hal itu tidak mungkin ia lakukan karena tenaganya sudah tidak kuat seperti dulu lagi.

“Kalau saja ada yang mengajak menjadi kuli, saya mau saja. Tapi siapa yang mau mempekerjakan orang tua seperti saya ini,” tuturnya.

Mengemis karena tradisi
Alasan mengemis seperti yang disampaikan Sumi, mungkin menjadi alasan pembenar bagi seseorang menjadi peminta-minta. Tapi tidak semua pengemis memiliki alasan yang sama. Ada pula karena faktor tradisi atau kebiasaan.

Seperti yang disampaikan Mustain, warga Desa Jaddung, Pragaan, Sumenep.

“Saya termasuk anak yang beruntung. Karena kedua orang tua mau memondokkan saya di pondok pesantren. Kalau tidak maka saya akan sama dengan tetangga menjadi pengemis,” katanya.

Menurut dia, di wilayah Kecamatan Pragaan itu mengemis bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, tapi sudah menjadi tradisi secara turun temurun.

“Saya tidak tahu bagaimana asal mulanya. Yang saya ingat sejak kecil, di rumahku itu mengemis sudah menjadi kebiasaan. Mereka bukan karena tidak mampu, tapi justru banyak yang mampu, juga mengemis dengan berbagai alasan,” katanya.

Bahkan, kata MUstain, di Desa Jaddung itu ada tradisi seorang menantu harus mengemis minimal selama tiga bulan sebelum memilki anak keturunan. Mereka tidak hanya mengemis di wilayah kabupaten Sumenep, tapi tiga kabupaten lain di Madura, seperti Pamekasan, Sampang dan wilayah Bangkalan.

Di Pamekasan, pengemis pendatang dari luar kabupaten umumnya memang mengaku dari wilayah Pragaan. Mareka bukan hanya kaum tua, tapi banyak punya masih muda dan kuat bekerja.

“Bagi kami fenomena semacam ini sudah menjadi penyakit sosial di masyarakat yang perlu segera diselesaikan. Sebab jika dibiarkan tradisi males dengan mengemis ini nantinya justru akan berkembang pesat di Madura,” kata Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pamekasan, Sulaisi Abdurrazak.

Menurut anggota komisi D DPRD Pamekasan Khairul Kalam, selama ini Pemkab memang belum memperhatikan secara serius tentang fenomina mengemis karena menganggap hal itu sudah biasa. Tapi ke depan, menurut Khairul, mereka perlu mendapat perhatian khusus.

“Saya rasa perlu ada semacam pembinaan ke depan. Memang sebagian diantanya itu karena terpaksa. Tapi kenyataanya tidak sedikit para pengemis itu karena males. Dan ini perlu ada koordinasi intensif antara Pemkab di Madura,” katanya.

Menurut dia, fenomina mengemis bukan hanya di Pamekasan dan Sumenep tapi sudah merambah hampir semua kabupaten di Madura. (www.antarajatim.com)

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.